Solok – Di antara sisa lumpur, bebatuan, dan kayu yang masih berserakan di badan jalan, sosok berseragam cokelat itu terus mondar-mandir memegangi sekop dan memberi komando singkat. Bukan sekadar datang meninjau, Kasat Reskrim Polres Solok Kota, Iptu Oon Kurnia Illahi, S.H., memilih tetap berada di garis depan, membantu warga Nagari Salayo yang berjuang bangkit dari banjir yang melanda sejak akhir pekan lalu.
Hingga hari keenam pascabanjir yang terjadi sejak Sabtu malam, Iptu Oon masih siaga di Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Pada Rabu (3/12/2025), ia memimpin langsung kerja bakti pembersihan jalan yang tertutup lumpur tebal, kayu, serta bebatuan. Sejak pagi, ia mengoordinasikan tim gabungan dari Polres Solok Kota, pemerintah daerah, dan unsur terkait lainnya agar akses utama warga bisa kembali normal secepat mungkin.
Banjir bandang yang melanda kawasan tersebut bukan hanya merusak fasilitas dan rumah warga, tetapi juga melumpuhkan jalur transportasi yang menjadi urat nadi aktivitas harian. Alih-alih hanya mengawasi dari kejauhan, Iptu Oon terlihat berbaur dengan masyarakat. Sesekali ia memantau pergerakan alat berat, di saat lain ikut mengangkat kayu dan mengikis sisa lumpur yang menumpuk di badan jalan dan halaman rumah.
“Pak Iptu Oon bukan hanya memimpin, tapi ikut bekerja di tengah lumpur dan puing. Kehadirannya sangat membantu kami,” kata salah seorang warga Salayo.
Warga menilai, kehadiran perwira polisi di tengah mereka memberikan dorongan semangat yang besar. Di saat sebagian warga masih diliputi lelah dan trauma, sikap tanggap dan keterlibatan langsung aparat kepolisian membuat suasana kerja bakti terasa lebih ringan. Banyak warga yang mengaku tak menyangka Kasat Reskrim akan bertahan hingga hari keenam, tetap berada di lapangan memastikan penanganan pascabanjir berjalan konsisten.
Di lokasi, terlihat anggota Polres Solok Kota menyebar di beberapa titik genangan lumpur, membantu warga mengangkut material sisa banjir dan mengatur arus lalu lintas di ruas jalan yang mulai bisa dilalui. Pemerintah daerah juga ikut menurunkan alat berat untuk mempercepat pembersihan timbunan material yang sebelumnya menutup badan jalan dan jembatan penghubung antarkampung.
Iptu Oon Kurnia Illahi, S.H., memanfaatkan momen krisis ini untuk menunjukkan wajah polisi yang humanis dan dekat dengan masyarakat. Dengan memimpin langsung di lapangan, ia berupaya memastikan tugas kepolisian tidak berhenti pada penegakan hukum semata, tetapi juga mencakup pelayanan, perlindungan, dan upaya memulihkan rasa aman warga setelah bencana. Kepeduliannya menjadikan sosoknya mendapat tempat khusus di hati warga Nagari Salayo.
Aksi turun langsung hingga hari keenam pascabanjir di Nagari Salayo menjadi pengingat bahwa kehadiran polisi di tengah bencana bukan hanya soal pengamanan, tetapi juga soal empati dan kesediaan ikut memikul beban. Bagi warga, figur Iptu Oon menjadi simbol harapan: perwira yang memilih bekerja dalam lumpur, agar masyarakat bisa kembali melangkah di jalan yang bersih dan aman.
