Sangatta – Aura budaya menyelimuti Lapangan Helipad Bukit Pelangi di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) saat pembukaan resmi Festival Pesona Budaya Kutim 2025 pada Jumat (21/11/2025). Dengan sambutan gemuruh dan alunan musik tradisional, festival yang berlangsung hingga Minggu (23/11/2025) ini menegaskan bahwa keindahan budaya jawa yang ada di Kutim lokal tak kalah dengan yang ada di Jawa.
Pada pembukaan Jumat pagi, para warga Kutim dan tamu undangan berkumpul di helipad Bukit Pelangi. Acara dimulai dengan open gate, kemudian dilanjutkan lomba fashion show sekaligus penyambutan rombongan, sambutan dan laporan dari panitia, hingga pentas seni serta musik sebagai pembuka. Jadwal lengkap mencakup rangkaian selama tiga hari, dengan MC yang akan secara bergantian dipandu oleh Aul, Carera, dan Fadel.
“Kita di Kutim tidak harus jauh‑jauh ke Jawa untuk menonton reog,” ujar Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim diwawancarai di Masjid Agung Al Faruq, Sabtu (22/11/2025) kemaren.
Ia menambahkan bahwa masyarakat Kutim akan “dimanjakan” dengan berbagai penampilan budaya dari lokal maupun tamu istimewa. Hal ini menunjukkan upaya memperkuat identitas budaya Kutim sekaligus membuka akses bagi warga untuk menikmati ragam seni tanpa harus berpindah ke pulau lain.
Rundown tiga hari festival yang disusun panitia mencakup: Jumat (21/11) dengan acara pembukaan, lomba fashion show, penyambutan rombongan, sambutan‑laporan, serta pentas seni‑musik; Sabtu (22/11) meliputi jejak budaya, pentas seni, teater legenda serta lomba baca tarawang; dan Minggu (23/11) ditutup dengan senam budaya, jejak budaya kembali, gladi & fun audio story, lomba menyanyi, hingga acara penutupan dan apresiasi seni budaya. Setiap sesi akan dilalui dengan MC (Aul, Carera, Fadel) sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Festival ini menjadi momentum penting bagi Kutim untuk memperkenalkan potensi budaya lokalnya—mulai dari tarian, teater legenda, hingga lomba yang melibatkan generasi muda. Dampaknya diproyeksikan tidak hanya pada aspek hiburan tetapi juga pada pariwisata dan ekonomi kreatif. Kehadiran masyarakat serta tamu undangan akan meningkatkan aktivitas di sekitar Bukit Pelangi, memperkuat sinergi antara budaya, masyarakat, dan stakeholder lokal.
“Festival ini juga mengandung makna pembelajaran. Dengan kegiatan “jejak budaya”, pengunjung diajak untuk lebih memahami akar sejarah dan tradisi Kutim. Lomba‑lomba seperti fashion show dan menyanyi menjadi ajang kreativitas yang menghubungkan warisan budaya dengan generasi milenial,” ujarnya.
Padliyansyah berharap bahwa acara ini akan menjadi kalender rutin yang semakin memperkuat kebanggaan lokal dan mendorong inovasi seni budaya di Kutim.
Festival Pesona Budaya Kutim 2025 menjadi saksi kebangkitan ekspresi budaya di wilayah ini—menegaskan bahwa meskipun berada di timur Kalimantan, Kutim punya panggung besar untuk merayakan warisan budaya dan mengajak semua lapisan masyarakat ikut meramaikan. (ADV).
