Perpaduan harmonis antara Islam dan budaya lokal menjadi salah satu kekhasan Islamisasi di Kutai Kartanegara. Proses dakwah yang terjadi sejak awal abad ke-17 ini tidak menabrak adat, tapi justru merangkul tradisi yang sudah ada, lalu mengislamkannya secara bertahap.
Contohnya dapat ditemukan dalam kesenian rakyat seperti tari-tarian dan syair lisan. Unsur animisme dan pengaruh Hindu-Buddha yang semula dominan perlahan disesuaikan dengan nilai-nilai Islam. Nama-nama upacara pun berubah: dari bernuansa mistik menjadi peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Isra Mi’raj.
“Islam di Kutai tidak datang untuk menghapus budaya lokal, tapi mengisinya dengan nilai-nilai baru,” ungkap Samsir dalam jurnal Masuk dan Berkembangnya Islam di Kerajaan Kutai Kartanegara.
Dakwah yang merangkul ini menjadikan masyarakat Kutai menerima Islam tanpa rasa kehilangan identitas. Malah, mereka merasa Islam memperdalam makna budaya mereka. Tradisi “bekepung”—gotong royong dalam hajatan—tetap dilestarikan, hanya saja doa-doa dan bacaan yang digunakan mulai memakai bahasa Arab dan ajaran tauhid.
Seni musik rebana dan syair-syair keagamaan menjadi bagian penting dalam perayaan adat. Islam memperkaya budaya Kutai, bukan menyingkirkannya. Inilah bentuk akulturasi damai yang membedakan dakwah Islam di Kutai dari wilayah lain yang lebih konfrontatif.
Bangunan arsitektur pun turut mencerminkan akulturasi ini. Banyak masjid awal di Kutai memakai arsitektur rumah panggung khas Dayak atau Melayu, namun dengan ornamen Islam seperti kaligrafi dan mihrab.
Dalam kehidupan sehari-hari, adat istiadat seperti pesta panen atau pernikahan tetap dilakukan, namun diawali dengan pembacaan doa atau pengajian. Penyatuan agama dan budaya ini berjalan secara alamiah dan diterima luas oleh masyarakat.
Model Islam seperti ini—yang tidak memusuhi tradisi tapi membimbingnya—menjadi fondasi Islam Nusantara yang ramah dan berakar kuat pada lokalitas.
Hingga hari ini, tradisi Islam-Kutai masih terasa dalam upacara adat, lagu-lagu daerah, dan gaya hidup masyarakat pesisir Mahakam. Ini bukti bahwa ketika agama dan budaya saling menghormati, keduanya bisa tumbuh bersama dan membentuk identitas yang kaya.
