Warisan bernilai bukan hanya tentang benda pusaka atau bangunan tua, tetapi juga nilai hidup yang diwariskan turun-temurun. Inilah yang dipelihara Suku Kutai melalui adat, tradisi, dan filosofi hidup mereka. Di balik megahnya Festival Erau atau indahnya tarian Jepen, tersimpan kearifan yang membentuk pola hidup selaras dengan alam dan sesama manusia.
Suku Kutai, salah satu suku tertua di Indonesia, mempertahankan berbagai ritual dan filosofi yang tak lekang oleh zaman. Upacara Erau, misalnya, bukan sekadar pertunjukan budaya, tapi simbol kuat hubungan antara rakyat, pemimpin, dan leluhur. Acara ini diselenggarakan untuk menandai peristiwa besar, seperti penobatan raja atau syukuran kerajaan.
Salah satu ritual paling menyentuh adalah Beseprah—tradisi makan bersama di satu wadah panjang, melambangkan kebersamaan dan kesetaraan. Sedangkan Pelas Tanah dan Bekenjong menunjukkan kesungguhan masyarakat Kutai dalam menjaga keseimbangan spiritual dan ekologis. Bekenjong, khususnya, masih digunakan sebagai metode pengobatan tradisional untuk menolak bala dan menjaga kesehatan komunitas.
“Tradisi ini bukan sekadar budaya, tetapi cara hidup yang membuat kami tetap bersatu,” ujar seorang tokoh adat Kutai dalam dokumentasi budaya setempat.
Nilai-nilai luhur juga tercermin dari ungkapan-ungkapan lokal seperti “Makan jangan sampai penuh lubang” yang mengajak hidup sederhana, atau “Hidup ngamau tapi selama belum putus” sebagai cerminan semangat pantang menyerah. Filosofi “Ruhui Rahayu”, yang berarti damai, sejahtera, dan aman, menjadi harapan yang selalu dibawa dalam setiap aspek kehidupan masyarakat.
Seni pun menjadi media pewarisan nilai. Tarian Jepen, yang diiringi musik Tingkilan, bukan hanya sarana hiburan. Gerak dan syairnya membawa pesan moral dan ajaran hidup kepada generasi muda. Tradisi Tarsulan dalam pernikahan pun memuat simbol-simbol penting seperti kesetiaan, kerja sama, dan penghargaan terhadap peran keluarga.
Menariknya, masyarakat Kutai juga menjaga hubungan harmonis dengan alam. Mereka tetap mempertahankan hak hidup di dalam kawasan hutan atau taman nasional tanpa merusak lingkungan. Pendekatan ini menjadi contoh nyata bahwa adat dan pelestarian alam bisa berjalan beriringan.
Kearifan lokal ini membuktikan bahwa modernisasi tak harus menghapus tradisi. Justru, akar budaya seperti milik Suku Kutai bisa menjadi fondasi kuat dalam membangun masyarakat yang seimbang secara sosial dan ekologis. Ruhui Rahayu bukan sekadar harapan, tetapi cara hidup yang menenangkan jiwa dan mempererat komunitas.
