Keaslian bahari menyapa dalam ketenangan Pulau Miang, desa wisata bahari di Kutai Timur yang bagai undangan diam bagi jiwa pencinta alam. Desa ini bukan sekadar destinasi—melainkan simbol harmoni komunitas nelayan, sejarah kolonial, dan potensi wisata bahari yang belum terjamah.
Fenomena terbaru yakni keberadaan kapal wisata Manggala Derya Sail yang diresmikan 5–7 Juli 2025 oleh Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman. Kapal sepanjang 17,96 m dengan kapasitas hingga 25 orang ini menyediakan paket wisata harian (Rp 350 ribu per orang untuk 6 jam) dan paket dua hari (Rp 1,5 juta).
Pada [07/07/2025], Bupati menyampaikan harapan agar kapal ini menjadi titik awal pengembangan pariwisata laut yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat lokal.
Data signifikan dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa Pulau Miang memiliki luas sekitar 26,51 km² dan jumlah penduduk sekitar 799 jiwa pada pertengahan 2023. Desa ini berada di Kecamatan Sangkulirang, mudah dicapai sekitar 45 menit perjalanan laut dari pelabuhan lokal.
Pada sisi sejarah, Pulau Miang masih menyimpan bekas sumur minyak peninggalan Belanda sebagai bukti warisan industri kolonial. Meskipun tidak tercantum rinci di laporan pemerintah, sejumlah narasumber lokal menyebutkan empat lokasi sumur tua yang kini menjadi bagian penting cagar budaya lokal.
“Alam bawah laut di sini sangat menakjubkan. Ini adalah aset wisata bahari yang harus terus kita jaga,” demikian kata Bupati tersebut secara terbuka, menegaskan komitmen pelestarian laut dan pengelolaan berbasis masyarakat.
Wisata laut menjadi keunggulan utama. Snorkeling di air jernih dan terumbu karang alami menghadirkan pengalaman langsung bersama ikan tropis warna-warni, bintang laut, bahkan freediving santai di perairan yang belum banyak tersentuh manusia.
Para pengunjung juga dapat menikmati kegiatan lainnya:
- Berkeliling pulau menggunakan kapal wisata resmi (Manggala Derya)
- Jelajah hutan mangrove dan pantai berpasir putih
- Belajar cara hidup komunitas nelayan lokal, serta menikmati seafood langsung dari tangan pengolah warga
Penginapan berupa homestay dan villa tersedia dengan tarif berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta per malam, menampung kelompok hingga 5–20 orang. Infrastruktur dasar seperti masjid, akses air bersih, dan spot foto turut mendukung kenyamanan wisatawan.
Namun tantangan tetap ada: akses darat belum memadai dan ketergantungan penuh pada transportasi laut. Meski begitu, pemerintah Kabupaten Kutai Timur terus menunjukkan komitmen meningkatkan infrastruktur dan promosi wisata berkelanjutan di desa ini.
Dengan potensi alam laut yang kuat, budaya yang autentik, dan fasilitas wisata berlahan berkembang, Desa Wisata Miang siap menjelma menjadi destinasi bahari unggulan di Kaltim.
