Cinta diri modern menjadi jargon yang akrab di telinga Gen Z. Dari skincare rutin hingga caption bermakna di Instagram, self-love tampak seperti simbol kekuatan baru. Namun, ketika self-love menjelma tekanan untuk “selalu bahagia” dan menolak rasa sedih, muncullah sisi gelap yang disebut toxic positivity.
Aktivitas seperti journaling, solo traveling, atau membuat afirmasi diri memang membantu. Tapi, menurut Mongrain & Anselmo-Matthews (2018), self-love yang sehat harus mencakup penerimaan terhadap emosi negatif. Jika tidak, praktik ini hanya jadi lapisan glitter yang menutupi luka terdalam.
Toxic positivity muncul saat seseorang menolak rasa sedih dan hanya ingin menampilkan sisi positif secara berlebihan. Kalimat seperti “kamu harus tetap kuat” atau “lihat sisi baiknya” bisa terasa menyemangati, tapi seringkali justru menekan perasaan yang sah.
Penelitian oleh Barton & Kirtley (2021) mengungkap bahwa tekanan untuk selalu terlihat bahagia di media sosial membuat banyak anak muda merasa bersalah ketika sedang lelah atau stres. Mereka akhirnya memilih diam dan memendam perasaan.
“Self-love bukan soal menutupi luka, tapi memberi ruang untuk luka itu ada,” ungkap para peneliti dalam jurnal Cyberpsychology.
Sikap self-love yang sejati justru lahir dari keberanian untuk rapuh. Menurut Neff (2003), self-compassion—atau belas kasih terhadap diri sendiri—adalah bentuk cinta diri yang paling sehat. Ia mencakup kesadaran, penerimaan, dan kebaikan pada diri sendiri, terutama saat sedang tidak baik-baik saja.
Gen Z perlu memahami bahwa menangis bukan kelemahan. Mengakui perasaan bukan berarti menyerah. Justru di situlah cinta sejati kepada diri sendiri dimulai—dari keberanian untuk hadir apa adanya, bukan hanya saat kita “baik-baik saja.”
Di tengah arus estetika dan “vibes positif” yang mendominasi media sosial, penting bagi generasi muda untuk membedakan mana cinta diri yang menyembuhkan dan mana yang sekadar menutupi luka.
