Kelahiran kejayaan itu terjadi di tanah yang sekarang kita kenal sebagai Kota Mojokerto. Di sinilah Raden Wijaya memulai langkah besar yang kemudian membentuk peradaban besar di Asia Tenggara. Fenomena ini bukan sekadar peristiwa lokal; melainkan tonggak penting dalam sejarah bangsa.
Pada tahun 1293, setelah menggagalkan invasi Mongol dan merebut kembali tahta, Raden Wijaya mendirikan kerajaan yang kemudian dikenal dengan Majapahit. Lokasi ibu kota kerajaan ini dipercaya berada di kawasan Trowulan, di wilayah Kabupaten Mojokerto. Sejarah mencatat bahwa dari kawasan inilah pusat kekuasaan politik, ekonomi, dan budaya Nusantara kemudian menjalar.
“Majapahit adalah simbol integrasi dan kedaulatan Nusantara. Semua itu berawal dari tanah yang kini kita kenal sebagai Mojokerto,”
— Dr. Agus Aris Munandar, sejarawan Universitas Indonesia.
Awal Kisah Raden Wijaya
Raden Wijaya merupakan menantu dari Raja Kertanegara dari Kerajaan Singasari. Ketika Jayakatwang melakukan pemberontakan dan menggulingkan Singasari pada akhir abad ke‑13, Raden Wijaya mengambil langkah strategis. Ia berpindah ke wilayah hutan di tepi Sungai Brantas, yang kemudian dikenal sebagai “Alas Trik”, dan selanjutnya menjadi cikal bakal kota Majapahit.
Dengan kecermatan strategi, ia terlebih dahulu menjalin aliansi dengan pasukan Mongol yang datang sebagai ekspedisi balas dendam dari Kekaisaran Yuan. Setelah bersama‑sama menghancurkan kekuasaan Jayakatwang, Raden Wijaya kemudian membalikkan situasi dan memukul mundur pasukan Mongol dari tanah Jawa.
Kemenangan ini menandai titik awal berdirinya Majapahit. Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja dengan gelar Kertarajasa Jayavardhana.
Pemilihan Lokasi dan Makna Strategis
Pemilihan kawasan Trowulan sebagai ibu kota bukan kebetulan. Di sana, Raden Wijaya membangun pusat pemerintahan yang kuat, mengelola keuntungan strategis baik dari lokasi maupun sumber daya.
Sebagai penjelasan etimologis, nama “Majapahit” sendiri berasal dari buah maja‑yang‑pahit (“maja” + “pahit”) yang banyak ditemukan di area tersebut.
Wilayah di sekitar Brantas dan Mojokerto menawarkan akses ke jalur perdagangan, irigasi dan pertanian yang baik, serta pertahanan alamiah dari area hutan dan lembah. Dengan demikian, Raden Wijaya tidak hanya membangun kerajaan secara simbolis, tetapi juga secara ekonomi‑strategis.
Titik Awal Peradaban dan Transformasi Mojokerto
Karena pemilihan lokasi ini, kawasan Mojokerto dan sekitarnya mengalami transformasi signifikan:
- Dari hutan lebat (“Alas Trik”) menjadi pusat pemerintahan yang maju.
- Dari permukiman sederhana menjadi ibu kota kerajaan yang mempengaruhi seluruh wilayah Nusantara.
- Dari status lokal menjadi simbol identitas kebangsaan.
Kini kota Mojokerto banyak menampilkan warisan Majapahit melalui berbagai situs dan museum, seperti Museum Trowulan yang mengoleksi artefak-artefak era Majapahit.
Nilai-Nilai yang Tertanam
Lebih dari sekadar kejayaan militer atau politik, kisah Raden Wijaya memunculkan sejumlah nilai yang relevan hingga hari ini:
- Keberanian mengambil risiko saat memutuskan membangun dari nol.
- Strategi dan kecerdikan dalam membalikkan aliansi musuh menjadi kemenangan.
- Visi jangka panjang dari lokal ke regional.
- Identitas dan warisan bangsa, karena dari tanah Mojokerto lah karya besar Majapahit bermula.
Relevansi untuk Mojokerto Masa Kini
Kota Mojokerto tidak hanya “Kota Onde‑onde”, tetapi juga kota yang menyimpan akar sejarah besar. Dengan mengangkat semangat Raden Wijaya dan Majapahit, kota ini memiliki potensi sebagai destinasi edukasi sejarah, pariwisata budaya, dan inspirasi generasi muda.
Dengan mengenali sejarahnya, warga dan pengunjung dapat melihat bahwa keberadaan kota ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari warisan peradaban.
Jejak Raden Wijaya dan kelahiran Majapahit di Mojokerto mengajarkan bahwa dari rintangan besar dapat tumbuh peradaban besar. Hingga kini, semangatnya terus hidup dalam denyut Kota Mojokerto.
