Tekanan sosial digital kini merasuki ruang-ruang pertemanan Gen Z. Aktivitas sederhana seperti nongkrong, yang dulunya menyenangkan, kini menjadi sumber stres bagi banyak anak muda. Mereka merasa cemas, takut dinilai, atau bahkan menghindari interaksi langsung karena tekanan sosial yang terasa begitu besar.
Kecemasan sosial (social anxiety) berbeda dari sekadar gugup. Ini adalah gangguan psikologis yang muncul karena rasa takut berlebih terhadap penilaian sosial. Menurut Boers et al. (2019), meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan remaja berkorelasi kuat dengan gejala depresi dan kecemasan, termasuk bentuk kecemasan sosial.
Banyak Gen Z merasa lebih nyaman di dunia maya daripada di dunia nyata. Namun kenyamanan itu semu. Ketika harus berinteraksi langsung, mereka kerap dilanda ketegangan, kehilangan spontanitas, atau takut dianggap “tidak cukup menarik.”
Fenomena FOMO (Fear of Missing Out) turut memperburuk kondisi ini. Dalam studi oleh Marengo et al. (2021), FOMO terbukti memperbesar rasa cemas saat berada di lingkungan sosial nyata, khususnya pada usia 18–24 tahun. Mereka merasa wajib eksis, namun sekaligus takut tidak sesuai ekspektasi kelompok.
“Tekanan untuk selalu tampil menyenangkan dan up-to-date membuat nongkrong jadi beban emosional, bukan kesenangan,” tulis para peneliti.
Ironisnya, meskipun ekspresif secara digital, banyak Gen Z kesulitan dalam komunikasi langsung. Kurangnya pengalaman tatap muka—yang semakin menurun sejak pandemi—membuat keterampilan sosial mereka belum terbentuk optimal. Orben et al. (2020) menyebut bahwa interaksi digital yang berlebihan bisa menurunkan kualitas empati dan hubungan interpersonal.
Hal ini mengakibatkan semacam “filter sosial” di dunia nyata. Mereka menjadi terlalu berhati-hati, terlalu menyaring ucapan, bahkan takut berpendapat. Padahal, esensi nongkrong bukanlah soal impresi, tetapi koneksi.
Untuk mengatasi kecemasan sosial, Gen Z perlu menyadari bahwa menjadi otentik lebih penting daripada tampil sempurna. Interaksi nyata adalah latihan empati dan kepercayaan diri, bukan ajang performatif.
