Jember – Ibarat mesin yang telah dipanaskan setahun penuh, Pemerintah Kabupaten Jember bersiap menekan pedal gas pembangunan. Refleksi satu tahun kepemimpinan Bupati Jember, Muhammad Fawait atau yang dikenal sebagai Gus Fawait, menjadi panggung penegasan arah baru: 2026 diproyeksikan sebagai tahun akselerasi dan pembuktian kinerja.
Dalam forum evaluasi tersebut, Gus Fawait menyoroti dinamika politik yang mewarnai awal masa jabatannya. Ia menegaskan, perbedaan pandangan dan riak politik adalah bagian tak terpisahkan dari sistem demokrasi. Namun demikian, pelayanan publik harus tetap menjadi prioritas utama dan tidak boleh terhambat oleh situasi politik.
“Dinamika itu hal yang wajar dalam demokrasi. Tapi pelayanan publik tidak boleh terganggu,” tegasnya.
Sejak dilantik, ia memilih untuk tidak terjebak dalam polemik yang berkembang. Fokus diarahkan pada menjaga stabilitas birokrasi dan memastikan program pelayanan kepada masyarakat berjalan konsisten. Tahun 2025 disebutnya sebagai masa adaptasi sekaligus konsolidasi internal pemerintahan.
Pada fase tersebut, tidak ada perombakan signifikan dalam jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Seluruh pimpinan OPD diberi kesempatan menunjukkan kinerja dan kapasitas masing-masing. Langkah ini diambil untuk menjaga kesinambungan program sekaligus mengukur efektivitas tata kelola yang sudah berjalan.
Memasuki 2026, arah kebijakan berubah lebih progresif. Pemerintah Kabupaten Jember akan beralih dari tahap konsolidasi menuju percepatan pembangunan di berbagai sektor strategis.
“Kalau 2025 adalah pemanasan, maka 2026 adalah tahun pembuktian. Kita harus berlari, bukan lagi berjalan,” ujarnya optimistis.
Sejumlah agenda prioritas telah disiapkan guna mendukung percepatan tersebut. Pemerintah daerah menargetkan peningkatan investasi melalui penyempurnaan regulasi tata ruang agar lebih ramah terhadap dunia usaha. Selain itu, penguatan fungsi Mall Pelayanan Publik di sejumlah titik akan dilakukan guna mempermudah perizinan dan layanan administrasi.
Reaktivasi Bandara Jember juga masuk dalam rencana strategis. Pembukaan kembali akses penerbangan diharapkan memperkuat konektivitas wilayah, memperluas jaringan ekonomi, serta menarik minat investor untuk menanamkan modal di Jember. Dengan konektivitas yang semakin terbuka, peluang penciptaan lapangan kerja baru diyakini akan meningkat, sehingga berdampak pada penurunan angka kemiskinan dan penguatan daya saing ekonomi lokal.
Gus Fawait juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan DPRD dan seluruh elemen politik daerah. Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan mekanisme kontrol dalam demokrasi, selama orientasinya tetap pada kepentingan masyarakat luas.
Menutup refleksi tersebut, ia menyampaikan komitmen personalnya sebagai putra daerah yang ingin memberikan kontribusi nyata bagi tanah kelahirannya.
“Saya ini anak desa. Saya meninggalkan banyak hal untuk mengabdi di tanah kelahiran. Amanah ini harus dijaga dengan kerja nyata,” tuturnya.
Refleksi setahun kepemimpinan ini bukan sekadar evaluasi administratif, melainkan penanda dimulainya fase baru percepatan pembangunan Jember. Dengan strategi akselerasi pembangunan Kabupaten Jember 2026, pemerintah daerah menargetkan kemandirian fiskal, peningkatan investasi, serta penguatan posisi Jember di tingkat regional dan nasional.(ADV).
