Jember – Seperti mesin yang baru menemukan ritmenya, Kabupaten Jember menunjukkan akselerasi pembangunan yang signifikan. Dalam Rapat Paripurna DPRD pada Selasa (31/3/2026), Bupati Jember memaparkan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Tahun Anggaran 2025 dengan deretan capaian yang diklaim menjadi lompatan kinerja di berbagai sektor strategis.
Dalam penyampaiannya di Aula DPRD Kabupaten Jember, Bupati menegaskan bahwa hasil pembangunan tersebut merupakan buah kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Ia menyebut capaian ini sebagai fondasi penting untuk membawa Jember menuju level pembangunan yang lebih tinggi.
“Ini menjadi fondasi kuat untuk membawa Jember naik ke level berikutnya,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, Jember mencatat pertumbuhan sebesar 5,47 persen, menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir dan melampaui rata-rata provinsi maupun nasional. Pendapatan Asli Daerah (PAD) juga mengalami lonjakan signifikan hingga 135 persen, dari Rp 774,16 miliar menjadi Rp 1,58 triliun, tanpa adanya kenaikan pajak maupun retribusi daerah.
Selain itu, sektor investasi turut mencatat peningkatan tajam sebesar 70,2 persen dengan total nilai mencapai Rp 2,57 triliun. Angka ini bahkan melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) hingga 139 persen, sekaligus mendorong penyerapan tenaga kerja hampir 10 ribu orang sepanjang 2025.
Di bidang sosial, capaian juga terlihat signifikan. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan menjadi 8,67 persen—terendah dalam satu dekade. Sementara tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 3,07 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) meningkat menjadi 71,57, didukung oleh perbaikan di sektor pendidikan, kesehatan, dan daya beli masyarakat.
Penurunan prevalensi stunting hingga 20,1 persen turut menjadi indikator meningkatnya kualitas hidup warga. Stabilitas daerah juga terjaga dengan tingkat inflasi sebesar 2,77 persen.
Dari sisi tata kelola pemerintahan, Jember meraih Indeks Reformasi Birokrasi kategori A (memuaskan). Efisiensi investasi juga tercermin dari nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) sebesar 0,74 yang menunjukkan penggunaan investasi yang optimal.
Sejumlah program prioritas menjadi pendorong capaian tersebut. Program Beasiswa Cinta Bergema telah menjangkau 7.037 mahasiswa dengan pembiayaan hingga lulus. Di sektor ekonomi, program Cinta Petani, Nelayan, dan UMKM memberikan dukungan dari hulu ke hilir, termasuk bantuan pupuk, asuransi nelayan, serta penguatan usaha bagi pelaku UMKM.
Dalam aspek perlindungan sosial, pemerintah daerah memperluas pemberian insentif kepada 21.399 penerima, mulai dari guru ngaji, kader posyandu, hingga pengurus RT/RW. Mereka juga mendapatkan kemudahan akses layanan serta perlindungan BPJS Ketenagakerjaan.
Pembangunan infrastruktur juga mengalami kemajuan signifikan. Jalan mantap mencapai 2.105 kilometer dengan dukungan 4.236 titik penerangan jalan umum. Bahkan wilayah terpencil seperti Dusun Bandealit kini telah teraliri listrik. Revitalisasi 124 gedung sekolah melalui dukungan APBN menjadi salah satu capaian besar secara nasional.
Konektivitas daerah turut meningkat dengan kembali beroperasinya Bandara Notohadinegoro yang kini melayani rute langsung ke Jakarta dan Bali. Dampaknya, jumlah kunjungan wisatawan melonjak hingga 1,8 juta orang dalam satu tahun.
Di sektor kesehatan, cakupan Universal Health Coverage (UHC) mencapai 99,46 persen dengan tingkat keaktifan peserta sebesar 82,15 persen, memungkinkan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan gratis di seluruh Indonesia.
Pelayanan publik berbasis aduan melalui program Wadul Gus’e juga menunjukkan hasil positif, dengan 10.412 laporan masyarakat yang diterima sepanjang 2025 dan tingkat penyelesaian mencapai 86 persen. Program ini diperkuat melalui inisiatif Bunga Desaku dan Guse Menyapa yang telah menjangkau 60 desa.
Dengan berbagai capaian tersebut, Bupati menegaskan optimisme untuk masa depan Jember yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing tinggi.
“Kami optimis Jember akan terus bergerak maju, lebih sejahtera, dan berdaya saing,” pungkasnya.
