Makna ganda dari simbol sering kali memicu tafsir liar di tengah publik. Seperti halnya gajah merah milik sebuah partai politik baru-baru ini. Awalnya dilabeli sebagai simbol kekuatan, keteguhan, dan solidaritas. Namun di balik sorot kamera dan jargon politik, publik menangkap makna lain yang tak kalah tajam.
Fenomena ini mencuat setelah unggahan Instagram dari akun king_shifrun viral. Konten tersebut menyandingkan simbol gajah dari PSI dengan kisah historis tentang pasukan gajah Abrahah yang ingin menghancurkan Ka’bah. Dengan narasi yang puitis dan visual yang artistik, unggahan ini menyoroti bahwa simbol bisa bermuka dua: di satu sisi tampak gagah, di sisi lain menyimpan ancaman tersembunyi.
“Gajah bukan hanya hewan. Ia bisa jadi kendaraan ambisi yang dibungkus retorika sakral,” tulis narasi dalam unggahan tersebut, menggambarkan bagaimana simbol digunakan untuk menggiring persepsi publik secara halus tapi manipulatif.
Gajah Abrahah yang digambarkan dalam Surat Al-Fil di Al-Qur’an pun jadi analogi utama. Sebuah kekuatan besar yang dikira tak terkalahkan, namun akhirnya dihancurkan oleh burung-burung kecil yang membawa batu dari langit. Dalam narasi ini, burung ababil menjadi representasi rakyat kecil, yang tak memiliki megafon atau pengaruh, tapi masih percaya pada keadilan.
Dalam konteks politik modern, gajah bisa berbaju partai, bisa pula bermuka netral. Tapi efeknya tetap sama: menginjak nalar, menghisap kekuatan jaringan, dan membungkam suara-suara kecil.
“Tak ada gajah yang terlalu besar untuk jatuh. Tak ada istana yang terlalu kuat untuk runtuh,” sebuah kutipan dari unggahan tersebut menggarisbawahi bahwa kekuasaan selalu punya masa kedaluwarsa.
Pesannya pun tajam: Ini bukan sekadar kisah simbolik, tapi peringatan tentang arah kekuasaan yang salah arah. Tentang elite yang membungkus ambisinya dengan jargon rakyat, dan agama yang diperalat demi legitimasi.
Unggahan ini sekaligus menjadi refleksi: publik bukan hanya objek tafsir politik, tapi juga subjek yang bisa menafsirkan balik. Dan dalam sejarah, kekuatan kerap runtuh bukan oleh senjata, tapi oleh keyakinan dan keberanian yang tak terlihat.
