Warisan permainan ini dikenal dengan berbagai nama di Nusantara—engrang, jangkungan, batungkau, hingga jengkek di Kutai Kartanegara. Meski namanya berbeda, esensinya sama: menjaga keseimbangan, melatih keberanian, dan menyelami nilai-nilai tradisional melalui permainan sederhana dengan dua tongkat bambu.
Engrang atau jengkek bukan sekadar permainan anak-anak desa tempo dulu. Ia adalah simbol kelincahan dan keberanian yang diwariskan lintas generasi. Di Kutai Kartanegara, permainan ini tetap hidup dan kerap menjadi bagian dari festival budaya dan acara adat lokal.
Permainan ini dimainkan dengan cara berdiri di atas dua batang bambu panjang yang dilengkapi pijakan kaki. Pemain harus melangkah seirama, menjaga keseimbangan tubuh, dan berupaya mencapai garis finis atau menyelesaikan rintangan tanpa jatuh.
“Jengkek bukan hanya permainan. Anak-anak belajar mengatasi rasa takut dan membangun kepercayaan diri sejak awal,” ujar Ibu Sari, seorang guru SD di Tenggarong yang rutin mengajarkan jengkek pada siswa-siswinya saat pelajaran muatan lokal.
Secara historis, egrang dikenal luas di banyak daerah Indonesia. Di Jawa Tengah disebut jangkungan, di Kalimantan dikenal batungkau, dan di Lampung dinamai terompang pancung. Meskipun asal usul pastinya belum jelas, keberadaan egrang yang menyebar luas menunjukkan nilai universalnya dalam budaya masyarakat Indonesia.
Selain menyenangkan, jengkek juga memiliki manfaat fisik dan emosional. Melatih keseimbangan dan ketangkasan adalah sisi fisiknya. Sementara itu, dari sisi psikologis, permainan ini menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri pada anak-anak.
Tak hanya itu, jengkek juga mengajarkan pentingnya sportivitas. Dalam lomba-lomba jengkek, pemain belajar menghargai kemenangan dan menerima kekalahan. Nilai-nilai seperti ini sangat penting dalam membentuk karakter generasi muda.
Di tengah arus digitalisasi, permainan tradisional seperti jengkek perlu terus dikenalkan. Baik melalui pendidikan formal, kegiatan ekstrakurikuler, maupun festival budaya. Dengan begitu, warisan permainan rakyat tidak hanya menjadi kenangan, tapi tetap menjadi bagian hidup anak-anak Indonesia masa kini.
