Jember – Di tengah tekanan harga yang masih terasa di sejumlah sektor, Kabupaten Jember justru memperlihatkan irama ekonomi yang tidak mudah goyah. Seperti mesin yang dipacu di tanjakan, daerah ini mampu melesat dalam menarik investasi besar sembari menjaga laju inflasi tetap dalam koridor yang dinilai aman. Pemerintah Kabupaten Jember menilai kombinasi tersebut menjadi penanda bahwa fondasi ekonomi daerah terus menguat di bawah kepemimpinan Bupati Jember, Gus Fawait.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik pada Maret 2026, inflasi tahunan Jember tercatat 3,84 persen. Angka itu sedikit berada di atas inflasi nasional yang mencapai 3,48 persen dan Jawa Timur sebesar 3,79 persen. Meski demikian, kondisi tersebut masih dianggap terkendali dan belum mengganggu stabilitas ekonomi daerah secara umum. Pemerintah daerah terus mengintensifkan kerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui strategi 4K, yakni menjaga keterjangkauan harga, menjamin ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi yang efektif kepada masyarakat dan pemangku kepentingan.
“Kami fokus pada langkah nyata, seperti operasi pasar dan koordinasi lintas sektor, agar kebutuhan pokok, BBM, dan LPG tetap tersedia dan terjangkau bagi masyarakat,” ujar Gus Fawait pada Kamis (2/4/2026).
Pernyataan itu menjadi gambaran bahwa pengendalian inflasi di Jember tidak semata dilakukan di atas kertas. Pemerintah daerah berupaya menahan gejolak harga dengan intervensi langsung di lapangan, terutama pada komoditas yang bersentuhan dengan kebutuhan harian warga. Pendekatan tersebut juga dinilai penting untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya saat harga beberapa komponen rumah tangga masih berfluktuasi.
Tekanan inflasi sendiri masih tampak pada kelompok tertentu. Sektor perawatan pribadi tercatat mengalami kenaikan paling tinggi, yakni 13,66 persen. Kenaikan ini menunjukkan bahwa sebagian barang dan jasa nonpangan masih menyumbang tekanan terhadap biaya hidup warga. Namun situasi itu sedikit tertahan oleh penurunan harga pada sektor teknologi informasi dan jasa keuangan yang mengalami deflasi sebesar 2,56 persen. Adanya pergerakan yang berbeda antar sektor itu memperlihatkan bahwa struktur inflasi Jember masih cukup dinamis, tetapi belum bergerak ke arah yang mengkhawatirkan.
Di sisi lain, geliat investasi menjadi kabar yang paling menonjol dalam perjalanan ekonomi Jember sepanjang 2025. Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mencatat realisasi investasi di kabupaten ini mencapai Rp2,57 triliun. Nilai itu melonjak 70,2 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut bukan hanya melampaui target dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, tetapi juga menunjukkan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek Jember.
“Investasi yang masuk harus memberi nilai tambah bagi masyarakat. Ini bukan sekadar angka, tetapi tentang kesejahteraan dan peluang kerja,” tegasnya.
Dampak investasi itu sudah terlihat dari penyerapan tenaga kerja. Dari total 457 proyek usaha yang masuk, hampir 10 ribu lapangan kerja berhasil tercipta. Angka tersebut menjadi penopang penting bagi ekonomi lokal karena membuka kesempatan kerja baru dan memperluas perputaran pendapatan di masyarakat. Sektor properti dan kawasan industri menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp1,44 triliun. Setelah itu, investasi juga mengalir ke industri makanan, kimia dan farmasi, mineral non-logam, serta perdagangan dan reparasi.
Masuknya modal dalam jumlah besar ke sektor-sektor tersebut memberi isyarat bahwa Jember tidak hanya tumbuh dari konsumsi, tetapi juga dari aktivitas produksi dan pengembangan usaha. Dalam jangka menengah, kombinasi antara inflasi yang terkendali dan peningkatan investasi dapat menjadi bekal penting bagi daerah untuk memperkuat kemandirian ekonomi. Pemerintah Kabupaten Jember pun menegaskan akan terus menjaga iklim usaha yang sehat, sekaligus memastikan kestabilan harga tetap terpelihara agar pertumbuhan ekonomi tidak kehilangan pijakan sosialnya.
Pada akhirnya, capaian Jember sepanjang 2025 memperlihatkan satu pesan yang cukup jelas: tekanan harga memang belum sepenuhnya reda, tetapi mesin ekonomi daerah tetap menyala. Ketika investasi tumbuh dan stabilitas terus dijaga, harapan menuju kesejahteraan yang lebih merata pun menjadi semakin nyata. (ADV).
