Hidup tak pasti sering membuat manusia mencari tempat bersandar. Sayangnya, banyak yang keliru menjadikan sesama manusia sebagai tumpuan utama. Padahal, sebaik apa pun seseorang hari ini, tidak ada jaminan sikapnya esok tetap sama.
Fenomena ini kerap muncul dalam hubungan antarindividu. Entah itu pertemanan, keluarga, hingga hubungan asmara, tak sedikit yang kecewa karena menaruh harapan berlebih. Terlalu menggantungkan kebahagiaan pada manusia menjadi sumber luka ketika kenyataan tak seindah harapan.
“Kepercayaan itu penting, tetapi jangan sampai membuat kita lupa bahwa manusia memiliki keterbatasan,” ujar Ustazah Laila dalam kajian rutin pekanan di Masjid Al-Falah, Ahad (26/10/2025).
Ia menambahkan bahwa kekecewaan terbesar sering kali datang bukan dari pengkhianatan, tapi dari ekspektasi kita sendiri. Oleh sebab itu, penting untuk menjaga hati agar tetap bertumpu pada Allah SWT, bukan manusia.
Dalam Islam, berserah diri hanya kepada Allah merupakan bentuk keimanan yang hakiki. Ketika seseorang menjadikan Tuhan sebagai sandaran utama, ia akan merasa lebih tenang. Rasa kecewa dan cemas pun berkurang, karena ia tahu bahwa segalanya ada dalam kuasa-Nya.
Sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an Surah At-Talaq ayat 3:
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).”
Ayat ini menjadi pengingat bahwa hanya Allah yang bisa diandalkan secara penuh. Sementara manusia, meski penting dalam kehidupan sosial, tetap memiliki kelemahan dan bisa mengecewakan.
Namun demikian, ini bukan berarti kita tak boleh mempercayai orang lain. Justru Islam mengajarkan untuk berbaik sangka, menjaga ukhuwah, dan saling tolong-menolong. Hanya saja, porsi kepercayaan perlu diiringi dengan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk fana.
Berbuat baiklah kepada siapa pun, tetapi jangan jadikan mereka sebagai penentu kebahagiaan. Biarlah hati tetap bertaut pada Yang Maha Kekal, karena dari-Nya lah ketenangan sejati bersumber.
