Magetan – Suara dari kampus mengetuk pintu parlemen. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif (STAIM) Magetan mendatangi DPRD Kabupaten Magetan untuk membawa sejumlah persoalan yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai pupuk bersubsidi, infrastruktur jalan hingga pelayanan kesehatan dan sosial.
Audiensi yang berlangsung Jumat (2/10/2026) tersebut dipimpin Presiden Mahasiswa STAIM Magetan, Akbar M., bersama jajaran pengurus BEM. Kedatangan mahasiswa diterima Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Magetan Dwi Aryanto, S.E., serta Ketua Komisi A DPRD Magetan Gaguk Arif Sujatmiko, S.E. Pertemuan menjadi ruang dialog bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi sekaligus mendorong adanya tindak lanjut dari lembaga legislatif.
Sejumlah persoalan strategis disampaikan dalam forum tersebut. Mahasiswa memberikan perhatian terhadap ketersediaan dan distribusi pupuk bersubsidi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan petani. Pengembangan sektor pertanian juga menjadi pembahasan mengingat bidang tersebut memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan masyarakat di daerah.
Selain sektor pertanian, BEM STAIM Magetan turut menyoroti kondisi infrastruktur jalan. Penataan lalu lintas juga masuk dalam daftar persoalan yang disampaikan kepada wakil rakyat. Pada sektor pelayanan publik, mahasiswa meminta peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dan sosial agar manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.
Presiden Mahasiswa STAIM Magetan, Akbar M., menilai audiensi merupakan bagian dari keterlibatan mahasiswa dalam mengawal persoalan daerah. Mahasiswa, menurutnya, tidak semestinya hanya beraktivitas dalam ruang akademik, tetapi juga mempunyai tanggung jawab sosial untuk ikut menyampaikan aspirasi yang berkembang di tengah masyarakat.
BEM STAIM Magetan berharap berbagai persoalan yang dibawa ke DPRD tidak berhenti sebagai materi diskusi dalam pertemuan. Mahasiswa mendorong adanya langkah nyata serta tindak lanjut dari pemerintah daerah maupun lembaga yang memiliki kewenangan terhadap setiap persoalan tersebut.
Ketua Bapemperda DPRD Magetan, Dwi Aryanto, mengapresiasi pilihan mahasiswa menyampaikan aspirasi melalui forum dialog. Menurutnya, pandangan generasi muda dapat menjadi salah satu sumber masukan bagi wakil rakyat dalam memahami persoalan yang sedang dirasakan masyarakat.
“Suara pemuda dan mahasiswa sangat penting. Ini bukan sekadar tuntutan, melainkan masukan berharga yang menjadi cermin apa yang dirasakan masyarakat. Kami catat dan akan kawal bersama instansi terkait,” ujar Dwi Aryanto.
Pernyataan tersebut sekaligus memberikan penegasan bahwa berbagai aspirasi yang disampaikan mahasiswa akan menjadi catatan DPRD. Persoalan yang membutuhkan penanganan dari pemerintah daerah nantinya dapat dikomunikasikan dengan instansi maupun organisasi perangkat daerah (OPD) sesuai bidang masing-masing.
Ketua Komisi A DPRD Magetan, Gaguk Arif Sujatmiko, juga memandang masukan mahasiswa sebagai bagian penting dalam pelaksanaan fungsi DPRD sebagai lembaga yang merepresentasikan masyarakat. Aspirasi tersebut dapat menjadi bahan perhatian legislatif dalam melihat persoalan maupun mengevaluasi kebijakan daerah yang berkaitan dengan kewenangan DPRD.
Melalui audiensi tersebut, mahasiswa juga mendorong terciptanya komunikasi yang lebih terbuka antara lingkungan kampus, masyarakat, pemerintah daerah dan DPRD. Hubungan yang terbangun dinilai dapat membantu memperkecil kesenjangan informasi sekaligus membuka jalur penyampaian persoalan masyarakat secara konstruktif.
Ketersediaan pupuk bersubsidi menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian karena berhubungan dengan keberlangsungan usaha pertanian. Mahasiswa menginginkan distribusi pupuk dapat berjalan baik sehingga kebutuhan petani dapat terpenuhi. Pada saat yang sama, pembangunan sektor pertanian juga diharapkan mendapat perhatian sebagai bagian dari penguatan ekonomi masyarakat.
Sorotan terhadap kondisi jalan dan penataan lalu lintas menunjukkan perhatian mahasiswa tidak hanya tertuju pada satu sektor. Infrastruktur yang memadai dinilai memiliki keterkaitan dengan mobilitas masyarakat serta aktivitas ekonomi. Sementara peningkatan pelayanan kesehatan dan sosial dibutuhkan untuk memastikan pelayanan pemerintah dapat dirasakan secara optimal oleh warga.
DPRD Magetan menyatakan berbagai masukan yang diterima akan ditindaklanjuti melalui koordinasi bersama OPD maupun instansi terkait. Langkah tersebut diperlukan karena persoalan yang dibawa mahasiswa mencakup sejumlah sektor dan membutuhkan penanganan sesuai kewenangan masing-masing lembaga.
Audiensi BEM STAIM Magetan dengan DPRD Kabupaten Magetan pada akhirnya menjadi salah satu ruang partisipasi mahasiswa dalam mengawal kebijakan publik. Aspirasi dari kampus diharapkan tidak hanya tercatat dalam forum, tetapi dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus mendorong perbaikan pelayanan dan pembangunan di Kabupaten Magetan.
