Perhelatan akbar World Muslim Scout Jamboree (WMSJ) 2025 di Bumi Perkemahan Cibubur digelar sebagai bagian dari perayaan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Acara ini semestinya menjadi momentum sejarah yang tidak hanya mempertemukan ribuan santri, pramuka, dan masyarakat umum, tetapi juga meneguhkan visi Gontor sebagai lembaga pendidikan yang melahirkan generasi berjiwa pemimpin dan berdaya global. Namun, pengalaman peserta di lapangan justru memperlihatkan sisi lain yang layak dievaluasi.
Sejumlah persoalan mendasar muncul sejak hari pertama. Tenda yang dipasang banyak yang bocor saat hujan deras mengguyur, beberapa bahkan roboh karena tidak memenuhi standar keamanan. Seharusnya risiko seperti ini sudah diantisipasi jauh-jauh hari, mengingat cuaca bulan September sering tidak menentu. Lemahnya manajemen risiko membuat peserta mengalami ketidaknyamanan yang bisa berbahaya, terutama bagi anak-anak dan remaja yang harus beristirahat dengan kondisi seadanya.
Lebih jauh lagi, masalah konsumsi menjadi keluhan utama. Pada hari pertama, distribusi makanan sangat terlambat, membuat banyak peserta harus menunggu. Sarapan yang seharusnya pukul 06.00 menjadi pukul 09.00, tidak ada makan siang, makan malam terjadwal sore dengan makanan yang sudah tidak layak makan alias BASI. Padahal, konsumsi adalah hal mendasar yang menentukan stamina dan semangat. Keterlambatan seperti ini bukan hanya masalah teknis, melainkan menunjukkan kurangnya koordinasi antarpanitia. Dalam acara berskala internasional, hal semacam ini seharusnya menjadi prioritas yang dijaga dengan ketat.
Waktu acara juga molor dari jadwal. Rundown yang sudah dibagikan ternyata sulit dijalankan tepat waktu. Banyak peserta dan volunteer merasa bingung, terutama ketika harus berpindah lokasi atau menunggu instruksi yang tidak kunjung jelas. Efeknya, beberapa sesi kehilangan esensi karena peserta sudah kelelahan menunggu. Situasi ini memperlihatkan lemahnya komunikasi internal panitia dan minimnya sistem kontrol agar agenda tetap berjalan sesuai rencana.
Tidak hanya itu, muncul pula kesan diskriminasi antara santri Gontor dan peserta atau volunteer umum. Fasilitas dan perlakuan yang diberikan tidak sama, dan dalam beberapa situasi, peserta dan volunteer dari luar merasa diperlakukan sebagai “tamu kelas dua”. Hal ini ironis, mengingat Gontor selama seratus tahun selalu mengedepankan nilai kesetaraan, ukhuwah Islamiyah, dan persaudaraan tanpa sekat. Ketidakadilan seperti ini, meski mungkin tidak disengaja, memberi luka dalam bagi mereka yang datang dengan penuh harapan untuk belajar dan berbagi.
Terlalu banyak miskomunikasi menjadi benang merah dari berbagai keluhan. Peserta sering kali tidak mendapatkan informasi yang jelas tentang perubahan acara, pembagian logistik, atau prosedur darurat. Bahkan, koordinasi antarpanitia sendiri tampak kacau, sehingga peserta merasa harus mencari informasi sendiri. Padahal, komunikasi yang transparan dan terarah adalah kunci utama dalam sebuah perhelatan besar dengan ribuan orang.
Semua persoalan ini menunjukkan bahwa panitia belum sepenuhnya matang dalam menyiapkan acara sebesar WMSJ 2025. Memang, mengelola ribuan orang bukan perkara mudah. Namun, bukankah Gontor sudah berpengalaman menyelenggarakan acara berskala nasional dan internasional? Maka wajar bila publik menaruh ekspektasi tinggi. Ketika ekspektasi itu tidak terpenuhi, kekecewaan terasa semakin dalam.
Namun, kritik ini bukan untuk menjatuhkan. Justru sebaliknya, ia harus menjadi bahan renungan bersama. WMSJ 2025 adalah simbol seratus tahun perjalanan Gontor, sebuah tonggak sejarah yang tidak boleh dicemari oleh kelemahan teknis. Gontor adalah lembaga yang sejak awal menekankan pentingnya manajemen, kemandirian, dan kepemimpinan. Kelemahan dalam acara ini seharusnya menjadi alarm bahwa nilai-nilai itu perlu benar-benar diterapkan dalam praktik, bukan hanya diajarkan di kelas.
Dalam perspektif sosial, kegagalan manajemen seperti ini berdampak pada persepsi masyarakat terhadap Gontor. Banyak peserta dan volunteer umum yang sebelumnya hanya mengenal Gontor dari cerita, kini mengalami langsung sisi negatifnya. Bila tidak segera diperbaiki, reputasi ini bisa merembet lebih jauh. Seratus tahun perjalanan bisa tergores hanya karena kelalaian panitia dalam hal teknis.
Dari sisi politik pendidikan, acara seperti WMSJ semestinya menjadi etalase kebanggaan dunia pesantren. Pemerintah pun biasanya memberi dukungan penuh karena melihatnya sebagai bukti kontribusi pesantren dalam membentuk generasi bangsa. Sayangnya, jika yang tampak justru ketidakteraturan, maka nilai tambah politik ini bisa hilang begitu saja. Bahkan, bisa muncul kritik bahwa pesantren belum mampu mengelola kegiatan besar dengan profesional.
Dari aspek ekonomi, pengelolaan acara yang kurang rapi juga merugikan. Banyak logistik terbuang percuma karena tidak terdistribusi dengan baik. Peserta juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri akibat keterlambatan panitia. Ini menimbulkan pertanyaan: ke mana sebenarnya alokasi dana acara sebesar ini? Transparansi anggaran menjadi hal yang tidak bisa ditawar untuk menjaga kepercayaan publik.
Secara budaya, jambore seperti ini seharusnya menjadi ruang pertemuan lintas santri, pramuka, dan masyarakat umum dalam semangat persaudaraan. Namun, ketika diskriminasi dan miskomunikasi muncul, nilai budaya itu menjadi pudar. Bukannya memperkuat ukhuwah, justru menimbulkan jarak antara “orang dalam” dan “orang luar”. Hal ini bertolak belakang dengan cita-cita pendiri Gontor yang menekankan inklusivitas.
Apa solusinya? Pertama, panitia perlu memperkuat manajemen risiko. Tenda, logistik, dan kesehatan peserta harus menjadi prioritas. Kedua, sistem komunikasi harus diperbaiki. Informasi real-time bisa disebarkan melalui aplikasi resmi agar peserta tidak bingung. Ketiga, prinsip kesetaraan harus ditegakkan. Tidak boleh ada perlakuan berbeda antara santri Gontor dan peserta umum. Keempat, evaluasi menyeluruh dengan melibatkan peserta harus dilakukan agar kelemahan ini tidak terulang di masa depan.
Lebih dari itu, Gontor harus berani belajar dari kesalahan. Seratus tahun adalah usia matang bagi sebuah lembaga. Kesalahan dalam teknis acara memang bisa terjadi, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana cara memperbaikinya dengan cepat dan terbuka. Di sinilah nilai kepemimpinan sejati diuji.
WMSJ 2025 seharusnya tidak hanya dikenang sebagai acara peringatan seratus tahun Gontor, melainkan sebagai cermin bagaimana sebuah lembaga besar mampu menghadapi kritik, berbenah, dan tetap menjadi teladan. Jika tidak, maka sejarah besar itu akan diringkas oleh publik dalam satu kalimat sederhana: “Seratus tahun Gontor, tapi manajemennya masih kacau.”
Pada akhirnya, opini ini adalah ajakan untuk menjadikan kritik sebagai bahan bakar perbaikan. Gontor tidak boleh berhenti di romantisme sejarah, tetapi harus melangkah lebih jauh: membangun masa depan dengan manajemen yang profesional, adil, dan inklusif. Hanya dengan begitu, seratus tahun berikutnya bisa benar-benar menjadi kisah kejayaan, bukan sekadar peringatan seremonial.
