Jombang – Masjid bukan sekadar tempat menunaikan salat berjamaah, melainkan juga pusat peradaban Islam yang memiliki peran strategis dalam membangun kehidupan sosial, pendidikan, dan ekonomi umat. Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Bedah Manajemen Kemakmuran Masjid yang digelar di Masjid As-Shiddiq Kepanjen, Kabupaten Jombang, Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB itu diikuti sekitar 70 peserta dari berbagai masjid dan musala di Kabupaten Jombang. Salah satunya Takmir Masjid Al-Ikhlas Perumda, Desa Candimulyo, yang mengirimkan lima utusan untuk memperdalam pemahaman mengenai pengelolaan rumah ibadah secara profesional. Pelatihan menghadirkan Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Jombang, Ustaz H. Didin A. Sholahuddin, S.E., atau akrab disapa Gus Didin, sebagai pemateri utama.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas pengurus takmir dalam mengelola masjid agar lebih tertata, mandiri, dan mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Dalam kegiatan itu, para peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya tata kelola masjid yang tidak hanya berorientasi pada kegiatan ibadah ritual, tetapi juga mampu mengembangkan berbagai program pemberdayaan jamaah.
Ketua DMI Kabupaten Jombang, Gus Didin, menekankan bahwa pengelolaan masjid membutuhkan perencanaan yang matang, struktur organisasi yang jelas, serta komitmen pengurus dalam menjalankan program kemakmuran masjid.
Menurutnya, masjid memiliki potensi besar sebagai pusat pembinaan umat apabila dikelola dengan manajemen yang baik dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
“Kami berharap, kegiatan bedah manajemen kemakmuran masjid ini dapat menjadi momentum kebangkitan bersama dalam memajukan dakwah Islam dan mensejahterakan jamaah dari akar rumput di Jombang,” ujar Gus Didin.
Dalam pemaparannya, Gus Didin menjelaskan bahwa pengelolaan masjid secara profesional dapat dilakukan dengan memperkuat tiga pilar utama, yakni idarah, imarah, dan ri’ayah.
Ketiga aspek tersebut menjadi landasan penting dalam membangun tata kelola masjid yang terstruktur, sekaligus memastikan kegiatan keagamaan dan pelayanan jamaah dapat berjalan secara berkesinambungan.
Aspek idarah berkaitan dengan manajemen dan administrasi masjid. Pengelolaan ini mencakup pembentukan struktur organisasi Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), penyusunan program kerja, administrasi kelembagaan, hingga pengelolaan keuangan dan aset.
Dalam penerapannya, pengurus masjid diharapkan mampu menjalankan sistem administrasi yang tertib serta mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
Pengelolaan keuangan yang terbuka menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan jamaah. Setiap penerimaan dan penggunaan dana masjid perlu dicatat serta dipertanggungjawabkan sesuai mekanisme yang disepakati pengurus.
Sementara itu, aspek imarah menitikberatkan pada upaya memakmurkan masjid melalui berbagai kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial.
Program tersebut dapat diwujudkan melalui peningkatan aktivitas salat berjamaah, penyelenggaraan majelis taklim, Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), kajian keislaman, serta peringatan hari besar Islam.
Selain itu, kegiatan sosial seperti santunan anak yatim, bantuan kepada fakir miskin, dan pemberdayaan ekonomi jamaah juga menjadi bagian penting dalam mengoptimalkan fungsi masjid di tengah masyarakat.
Melalui program yang terencana, masjid diharapkan mampu menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk memperoleh pembinaan keagamaan sekaligus memperkuat kepedulian sosial.
Adapun aspek ri’ayah berkaitan dengan pemeliharaan bangunan dan fasilitas masjid. Pengelolaan ini meliputi kebersihan, keindahan, kenyamanan, keamanan, serta perawatan sarana dan prasarana.
Fasilitas yang terawat dinilai dapat memberikan kenyamanan bagi jamaah dalam menjalankan ibadah maupun mengikuti kegiatan keagamaan.
Selain menjaga kondisi fisik bangunan, pengurus juga perlu memperhatikan aksesibilitas dan pemanfaatan teknologi yang dapat mendukung pelayanan masjid.
Ketiga pilar tersebut diharapkan dapat diterapkan secara seimbang sehingga pengelolaan masjid tidak hanya berjalan baik dari sisi administrasi, tetapi juga mampu meningkatkan aktivitas jamaah dan kualitas fasilitas.
Kegiatan Bedah Manajemen Kemakmuran Masjid di Masjid As-Shiddiq Kepanjen diawali dengan registrasi peserta, pembukaan, dan pembacaan tahlil bersama.
Memasuki pukul 08.00 WIB, acara dilanjutkan dengan sambutan Ketua Takmir Masjid As-Shiddiq Kepanjen yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan antusiasme para peserta.
Dalam kesempatan tersebut, pentingnya penguatan kapasitas pengurus masjid menjadi salah satu perhatian agar program kemakmuran dapat dirancang dan dilaksanakan secara lebih terarah.
Selanjutnya, pada pukul 08.15 WIB, Ketua DMI Kabupaten Jombang Gus Didin memberikan sambutan sekaligus menyampaikan materi mengenai strategi pengelolaan masjid modern.
Para peserta mengikuti pemaparan mengenai penerapan manajemen masjid yang disesuaikan dengan kebutuhan jamaah dan kondisi masing-masing lingkungan.
Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan perwakilan berbagai masjid dan musala yang hadir untuk menambah wawasan mengenai pengembangan kelembagaan dan kegiatan kemakmuran masjid.
Salah satu peserta yang turut mengikuti kegiatan tersebut berasal dari Takmir Masjid Al-Ikhlas Perumda, Desa Candimulyo, Kabupaten Jombang.
Masjid Al-Ikhlas mengirimkan lima orang perwakilan, yakni Ustaz Nasrul R., Ustaz H. Hasan, Ustaz Purnomo, Ustaz Ahmad Muslim Al Karim, dan Anton.
Keikutsertaan kelima utusan tersebut merupakan bentuk komitmen pengurus dalam meningkatkan pengetahuan dan kemampuan mengelola masjid agar semakin berkembang.
Wakil Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Perumda, Ustaz Nasrul, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan pelatihan tersebut.
Menurutnya, kegiatan ini memberikan tambahan pengetahuan yang bermanfaat bagi para pengurus takmir, terutama dalam memahami bagaimana membangun sistem pengelolaan masjid yang lebih maju.
“Kegiatan pelatihan manajemen masjid ini sangat bagus untuk menambah khasanah dan literasi tentang bagaimana manajemen masjid itu bisa maju dan berkembang untuk kepentingan peradaban Islam,” tutur Nasrul.
Ia menjelaskan, pengelolaan masjid perlu diarahkan agar mampu menjawab kebutuhan umat yang semakin beragam.
Masjid tidak cukup hanya difungsikan sebagai tempat pelaksanaan ibadah wajib, tetapi juga perlu dikembangkan menjadi pusat dakwah, pendidikan agama, dan kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Masjid bukan hanya pusat ibadah ritual semata, seperti sholat, melainkan lebih dari itu sebagai sarana dakwah, misalnya kegiatan pengajian, kajian ilmu agama, peringatan hari-hari besar Islam, pengembangan pendidikan Alquran dan menumbuhkan ekonomi umat,” tutur Wakil Ketua Takmir Masjid Al-Ikhlas Perumda Ustad Nasrul memberikan apresiasinya.
Nasrul menilai pengembangan kegiatan masjid membutuhkan kreativitas dan kesungguhan para pengurus. Program yang diselenggarakan harus mampu mengajak jamaah dari berbagai kelompok usia untuk terlibat aktif.
Selain kegiatan keagamaan, perhatian terhadap kenyamanan jamaah juga menjadi hal yang tidak kalah penting.
Menurutnya, pengurus takmir memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana masjid yang aman, bersih, sejuk, dan damai sehingga masyarakat merasa nyaman ketika beribadah.
Kondisi fasilitas yang baik juga dapat mendukung pelaksanaan berbagai kegiatan, mulai dari salat berjamaah, pengajian, hingga pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak.
“Jika masjidnya bersih, fasilitasnya lengkap, aman dan nyaman tentu jamaahnya rajin datang ke masjid,” tutup Nasrul.
Melalui pelatihan tersebut, para pengurus masjid dan musala di Kabupaten Jombang diharapkan dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.
Peningkatan kualitas manajemen menjadi salah satu langkah untuk membangun masjid yang tidak hanya ramai oleh kegiatan ibadah, tetapi juga memiliki program pembinaan dan pemberdayaan yang berkelanjutan.
Dengan penguatan tiga pilar idarah, imarah, dan ri’ayah, masjid diharapkan mampu menjalankan perannya secara lebih optimal sebagai pusat pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, dan pengembangan ekonomi umat.
Keikutsertaan lima utusan Masjid Al-Ikhlas Perumda dalam kegiatan Bedah Manajemen Kemakmuran Masjid menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pelayanan kepada jamaah. Melalui tata kelola yang semakin baik, masjid diharapkan terus berkembang sebagai rumah ibadah yang makmur, nyaman, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan peradaban Islam di Kabupaten Jombang.
