Sidoarjo – Masjid Al Musafirin yang berada di Rest Area 753 B Tol Surabaya–Gempol resmi beroperasi pada Ahad (18/10/2026). Masjid yang pembangunannya dimulai sejak September 2025 ini kini mampu menampung hingga 450 jemaah, meningkat dari kapasitas sebelumnya yang hanya sekitar 280 jemaah. Kehadirannya diharapkan memberikan kemudahan bagi pengguna jalan tol untuk beribadah sekaligus membawa manfaat bagi masyarakat sekitar.
Peresmian Masjid Al Musafirin dilakukan oleh Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, bersama Komisaris Utama PT Margabhakti Sari Sejahtera (MbSS), Mohamad Faried, SH.
Dalam sambutannya, Prof. M. Nuh menyampaikan bahwa pembangunan masjid bukan sekadar mendirikan bangunan fisik, melainkan juga menjadi bentuk pertolongan sosial yang diharapkan mendatangkan pertolongan Allah SWT.
Mantan Menteri Pendidikan Nasional periode 2009–2014 tersebut menjelaskan tentang sosio-kausalitas atau hukum sebab-akibat sosial dalam pertolongan Allah. Ia menekankan bahwa pertolongan kepada sesama dapat berlangsung secara langsung maupun tidak langsung.
“Allah pasti menolong hamba yang menolong orang lain. Menolong itu ada yang direct, ada yang indirect. Ada yang langsung dan ada yang tidak langsung,” jelas Prof. M. Nuh.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) atas kiprahnya dalam mengelola dana umat. Prof. M. Nuh berharap YDSF terus mengembangkan program-program yang memberikan dampak dan manfaat besar bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan YDSF terus berkembang dengan program-program yang dampak dan nilai manfaatnya paling tinggi, maximum impact. Terima kasih, selamat berjuang, selamat bahagia mendapat jariyah dari tempat ini,” pesannya.
Sementara itu, salah satu pendiri YDSF, Ustadz Abdulkadir Baraja, menyampaikan kembali pesan Ketua Pembina YDSF, almarhum Prof. Mahmud Zaki, mengenai pentingnya pengelolaan dana umat secara amanah dan profesional.
Menurut Ustadz Abdulkadir, YDSF diharapkan senantiasa mampu mengoptimalkan dana umat untuk berbagai program yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan masjid dengan manajemen yang baik agar keberadaan bangunan tersebut dapat terus memberikan manfaat.
“Dan semoga masjid ini akan diurus dengan manajemen yang bagus,” kata Ustadz Abdulkadir.
Pesan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan masjid tidak hanya diukur dari berdirinya bangunan, tetapi juga dari keberlanjutan pengelolaan dan upaya memakmurkannya.
Arsitek Masjid Al Musafirin, Andy Rahman, menjelaskan bahwa desain bangunan mengusung konsep arsitektur yang merespons kondisi tapak dan mengoptimalkan penggunaan lahan. Perancangannya memperhatikan keselarasan dengan lingkungan fisik, sosial, dan budaya setempat.

Optimalisasi ruang menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan daya tampung masjid dari sekitar 280 jemaah menjadi 450 jemaah, bahkan lebih. Selain kapasitas, desain juga memperhatikan pencahayaan alami dan sirkulasi udara agar ruang masjid tetap nyaman digunakan untuk beribadah.
“Konsep ini membuat masjid ini lebih hemat energi dan sehat,” tegas Andy.
Dari sisi bentuk, bangunan mengambil inspirasi dari arsitektur masjid awal di Nusantara yang menggunakan atap tajuk. Bentuk tersebut disederhanakan, tetapi tetap mempertahankan kesan monumental.
Pemilihan warna terakota juga menjadi bagian dari konsep desain, dengan mengambil inspirasi dari karakter arsitektur Jawa Timur, khususnya warna khas candi-candi berbahan bata di wilayah tersebut.
Dengan beroperasinya Masjid Al Musafirin, YDSF berharap fasilitas ibadah ini dapat dimanfaatkan secara luas oleh para pengguna jalan tol Surabaya–Gempol dan masyarakat sekitar. Pada hari peresmian, sejumlah hadirin juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menunaikan salat dan merasakan sujud pertama di masjid yang baru diresmikan itu.
