Jombang – Semangat membangun budaya membaca terus digaungkan Pemerintah Kabupaten Jombang. Melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip), pemerintah daerah menggelar Festival Literasi Kabupaten Jombang 2026 di Pendopo Kabupaten Jombang, Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap dunia literasi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya lokal melalui karya tulis dan kegiatan edukatif.
Festival yang dipusatkan di Pendopo Kabupaten Jombang, Jalan Alun-Alun Nomor 1, Kaliwungu, tersebut dijadwalkan dimulai pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini melibatkan berbagai unsur pemerintahan, lembaga pendidikan, komunitas, serta masyarakat dengan tujuan meningkatkan minat baca dan indeks literasi masyarakat Kabupaten Jombang. Selain menghadirkan kegiatan edukasi, festival juga mengangkat potensi budaya dan kuliner daerah sebagai bagian dari pengembangan literasi berbasis kearifan lokal.
Rangkaian pembukaan festival diawali dengan penyambutan tamu undangan dan penyerahan santunan kepada anak yatim. Acara kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Perpustakaan sebagai bentuk penguatan semangat kebangsaan serta kecintaan terhadap dunia pendidikan.
Nuansa budaya daerah turut mewarnai kegiatan melalui penampilan seni tari tradisional bertajuk Tari Ngempet Luwe yang dibawakan siswa-siswi SD Negeri Losari. Penampilan tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan generasi muda dalam memperkenalkan sekaligus melestarikan kesenian tradisional Jombang.
Pembukaan resmi Festival Literasi Kabupaten Jombang 2026 dijadwalkan dilakukan Bunda Literasi Kabupaten Jombang, Yuliati Nugrahani Warsubi, yang merupakan istri Bupati Jombang Warsubi. Sebelum pembukaan, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Jombang, Thonsom Pranggono, AP., M.E., dijadwalkan menyampaikan laporan sekaligus sambutan mengenai pelaksanaan kegiatan.
Salah satu agenda unggulan festival tahun ini adalah peluncuran buku berjudul Gastronomi: Warisan Kuliner Jombang di Meja Kekinian. Buku tersebut mengangkat kekayaan kuliner tradisional Kabupaten Jombang yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan potensi ekonomi untuk terus dikembangkan mengikuti perkembangan zaman.
Peluncuran buku direncanakan berlangsung secara simbolis melalui penyerahan oleh Bunda Literasi Kabupaten Jombang. Kehadiran karya tersebut diharapkan dapat memperluas pengetahuan masyarakat mengenai keberagaman kuliner lokal sekaligus mendorong upaya pelestarian warisan budaya melalui dokumentasi tertulis.
“Buku ini mengangkat kekayaan kuliner lokal khas Jombang agar lebih dikenal dan diangkat dalam kancah modern,” ujar Kepala Dispersip Jombang, Thonsom Pranggono, didampingi Kepala Bidang Persip, Didik Heru Purwanto.
Thonsom menjelaskan bahwa kegiatan festival tidak hanya berfokus pada peluncuran buku, tetapi juga menghadirkan forum diskusi untuk memperdalam pemahaman masyarakat mengenai isi dan pesan yang terkandung dalam karya tersebut.
Agenda bedah buku dijadwalkan menghadirkan Didin Ahmad Sholahuddin sebagai pembedah, dengan Andhi Setyo Wibowo bertindak sebagai moderator. Melalui diskusi tersebut, peserta diharapkan memperoleh wawasan mengenai filosofi kuliner tradisional, nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun, serta peluang pengembangannya dalam sektor ekonomi kreatif.
Pembahasan mengenai gastronomi dinilai relevan dengan upaya memperkenalkan identitas daerah kepada masyarakat luas. Kuliner tidak hanya dipandang sebagai kebutuhan konsumsi, tetapi juga bagian dari perjalanan sejarah, kebiasaan sosial, dan kekayaan budaya masyarakat yang perlu didokumentasikan.
Melalui buku tersebut, Dispersip Jombang berupaya menghadirkan pendekatan literasi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dengan mengangkat tema makanan tradisional, masyarakat diharapkan semakin tertarik membaca sekaligus mengenali potensi daerahnya sendiri.
Selain peluncuran dan bedah buku, Festival Literasi 2026 juga menghadirkan kegiatan Tour of Pendopo yang melibatkan 55 siswa-siswi sekolah dasar. Dalam kegiatan tersebut, para pelajar akan didampingi Duta Wisata Guk Yuk Kabupaten Jombang untuk mengenal lingkungan Pendopo Kabupaten Jombang.
Kegiatan edukasi tersebut menjadi kesempatan bagi para siswa untuk memperoleh pengalaman belajar di luar ruang kelas. Melalui kunjungan langsung, mereka diharapkan dapat mengenal lebih dekat lingkungan pemerintahan daerah sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap sejarah dan identitas Kabupaten Jombang.
Keterlibatan pelajar dalam festival juga menjadi bagian penting dari upaya menanamkan kebiasaan membaca sejak usia dini. Budaya literasi tidak hanya dibangun melalui kegiatan membaca buku, tetapi juga melalui pengalaman, pengamatan, diskusi, dan kemampuan memahami informasi yang diperoleh dari lingkungan sekitar.
Festival Literasi Kabupaten Jombang 2026 turut dirancang sebagai ruang kolaborasi berbagai pihak. Puluhan undangan dari unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), lembaga pendidikan, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), BUMN, BUMD, praktisi hukum, hingga insan media dijadwalkan menghadiri kegiatan tersebut.
Keterlibatan berbagai elemen tersebut diharapkan dapat memperkuat dukungan terhadap pengembangan literasi di Kabupaten Jombang. Peningkatan budaya membaca membutuhkan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, dan lembaga lainnya.
Di sisi lain, keberadaan perpustakaan daerah menjadi salah satu sarana penting untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui penyediaan berbagai koleksi buku yang dapat diakses secara gratis, masyarakat memiliki kesempatan memperluas pengetahuan dan meningkatkan kemampuan literasinya.
Festival ini juga diharapkan menjadi sarana memperkenalkan layanan perpustakaan kepada masyarakat yang lebih luas, terutama generasi muda. Dengan semakin banyaknya kegiatan edukatif dan ruang interaksi, perpustakaan dapat terus dikembangkan sebagai pusat pembelajaran yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Jombang berharap Festival Literasi 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, melainkan mampu memberikan dampak positif terhadap peningkatan minat baca, penguatan pengetahuan, dan pelestarian budaya lokal.
Melalui perpaduan kegiatan literasi, seni budaya, peluncuran buku, dan edukasi pelajar, festival tersebut diharapkan menjadi langkah bersama dalam membangun masyarakat Jombang yang semakin gemar membaca, berwawasan luas, serta memiliki daya saing tanpa meninggalkan kekayaan tradisi daerahnya.
