Jember – Polemik penataan kawasan Pasar Tanjung terus menjadi perhatian publik. Di tengah protes sebagian pedagang terhadap kebijakan penataan, dukungan justru bermunculan dari sejumlah warganet yang menilai penggunaan badan jalan untuk aktivitas perdagangan perlu ditertibkan.
Respons tersebut terlihat pada kolom komentar sebuah unggahan Instagram yang membahas persoalan Pasar Tanjung. Sejumlah warganet menyoroti fungsi jalan yang dinilai semestinya digunakan untuk kepentingan lalu lintas masyarakat.
“Jalan untuk kendaraan bukan untuk jualan,” tulis akun Samsul.
Komentar senada disampaikan Edi Sukamto. Ia secara singkat meminta agar fasilitas jalan umum dikembalikan pada fungsi utamanya.
“Fungsikan jalan umum,” tulis Edi.
Komentar lain bahkan menyoroti perlunya perubahan sikap dari pihak-pihak yang terdampak penataan.
“Gini modelan orang yang pemikirannya dangkal, diajak maju gak mau, diajak tertib gak mau. Karepe dewe,” tulis akun pety.handikasari.
Sementara akun king_cung_yek memberikan dukungan terhadap langkah pemerintah yang ingin membenahi kawasan Pasar Tanjung.
“Mau Jember maju, bersih, aman, tertib, pemerintah udah mau bergerak eh malah harus menghadapi modelan orang macam begini semua,” tulisnya.
Komentar-komentar tersebut menjadi gambaran bahwa polemik Pasar Tanjung tidak hanya dilihat dari sisi kepentingan pedagang. Sebagian masyarakat juga mempertanyakan penggunaan ruang publik, khususnya badan jalan yang bersinggungan langsung dengan aktivitas dan mobilitas warga.
Sebelumnya, persoalan penataan Pasar Tanjung telah memunculkan aksi penyampaian aspirasi dari mahasiswa dan perwakilan pedagang kepada Bupati Jember Muhammad Fawait.
Sejumlah persoalan menjadi pembahasan, termasuk kemacetan, penggunaan badan jalan untuk aktivitas perdagangan serta tata kelola kawasan pasar.
Pemkab Jember kemudian mendorong penataan kawasan dengan mengatur aktivitas perdagangan dan lalu lintas di sekitar Pasar Tanjung.
Namun, kebijakan tersebut tidak sepenuhnya diterima semua pihak. Sebagian pedagang kembali menyampaikan protes karena menilai proses penataan masih menyisakan persoalan dan belum mengakomodasi kepentingan seluruh pedagang.
Di sisi lain, kebutuhan untuk menata ruang publik juga menjadi tuntutan masyarakat. Jalan yang digunakan sebagai lokasi berjualan berpotensi mempersempit ruang kendaraan dan memengaruhi kelancaran mobilitas di kawasan pasar.
Persoalannya kemudian bukan sekadar antara pemerintah dan pedagang. Ada kepentingan masyarakat luas yang juga perlu diperhitungkan, terutama pengguna jalan dan warga yang setiap hari beraktivitas di kawasan Pasar Tanjung.
Karena itu, penataan Pasar Tanjung kini menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan solusi menyeluruh. Ketertiban kawasan perlu dijaga, sementara keberlangsungan usaha pedagang juga harus mendapat ruang penyelesaian.
Di tengah tarik-menarik kepentingan tersebut, suara warganet menjadi salah satu gambaran bahwa sebagian masyarakat menginginkan kawasan Pasar Tanjung lebih tertib dan fungsi ruang publik tetap terjaga.
