Ada satu pertanyaan yang kadang baru bisa dijawab setelah usia bertambah dan perjalanan hidup membawa kita jauh: di manakah sebenarnya kampung halaman kita?
Apakah kampung halaman adalah tempat seseorang dilahirkan? Tempat alamatnya tercatat? Atau tanah tempat ingatan, keluarga, persaudaraan, perjuangan, dan sejarah kehidupan bertumbuh?
Bagi saya, jawabannya adalah Sangkulirang.
Tempat Keluarga Menanam Kehidupan
Sejak sekitar tahun 1960, kedua orang tua saya memilih Sangkulirang sebagai tempat menambatkan kehidupan. Di tanah inilah mereka membangun rumah, mencari penghidupan, mengenal masyarakat, membesarkan keluarga, dan menanam harapan bagi anak-anaknya.
Dari perjalanan itulah akar keluarga kami perlahan tumbuh. Ia tidak sekadar menancap pada sebidang tanah, tetapi menyatu dengan kehidupan masyarakat Sangkulirang.
Saya memang dilahirkan sekitar 51 tahun silam di Rumah Sakit Islam Sungai Dama, Samarinda. Ada alasan yang membuat ibu saya ketika itu harus melahirkan di rumah sakit. Saya lahir prematur, ketika usia kandungan sekitar tujuh bulan.
Pada masa itu, perjalanan Sangkulirang menuju Samarinda bukan perjalanan sederhana. Ibu harus melewati perjalanan laut dari Sangkulirang menuju Samarinda demi keselamatan persalinan.
Karena itulah, Samarinda menjadi tempat saya dilahirkan. Namun Sangkulirang tetap menjadi tempat saya dibesarkan.
Dan saya kemudian memahami satu hal: tempat kelahiran seseorang tidak selalu sama dengan tempat hatinya menemukan rumah.
Saya adalah putra Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur.
Identitas itu tidak saya pahami semata-mata sebagai identitas administratif. Ia tumbuh dari pengalaman hidup, hubungan keluarga, pendidikan, pergaulan, serta cerita-cerita masyarakat yang saya dengar sejak kecil.
Sangkulirang dalam Jejak Sejarah
Sangkulirang memiliki perjalanan sejarah yang panjang.
Dalam sejarah wilayah pesisir Kalimantan Timur, Sangkulirang—yang dalam sejumlah kisah lama dikaitkan dengan Pulau Sangkuang—berada dalam pengaruh kekuasaan Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Sangkulirang bukan kerajaan tersendiri dengan garis raja yang berdiri terpisah, tetapi berkembang sebagai salah satu kawasan penting di pesisir timur Kalimantan.
Sebelum struktur pemerintahan formal berkembang, masyarakat telah hidup melalui komunitas-komunitas adat. Godang Lama menjadi salah satu tempat yang disebut dalam sejarah awal permukiman Sangkulirang. Di kawasan ini hidup masyarakat lokal, termasuk komunitas Basap, berdampingan dengan para pendatang yang datang melalui perdagangan, perkawinan, dan perpindahan penduduk.
Sejarah Sangkulirang, karena itu, sejak awal adalah sejarah perjumpaan.
Pada awal abad ke-20, ketika wilayah ini semakin berkembang, Kesultanan Kutai mengirim pejabat untuk menjalankan pemerintahan. Dalam cerita sejarah masyarakat Sangkulirang dikenal beberapa nama pemimpin, antara lain Mas Patih Abdul Manaf, Mas Purwo Ibrahim, Ahmad Samad, Mas Purwo Ibrahim yang kemudian kembali memimpin, serta Raden Mahmud.
Pusat pemerintahan kemudian berkembang dari kawasan Godang Lama menuju Benua Baru di Pulau Sangkuang, yang kelak menjadi bagian penting dalam pertumbuhan Sangkulirang.
Ketika pemerintahan kolonial Belanda memperluas administrasinya pada dekade 1930-an, Sangkulirang memasuki fase pemerintahan kolonial. Awang Ishak dikenal dalam sejarah lokal sebagai salah satu tokoh yang memimpin pada periode tersebut.
Setelah Indonesia merdeka, struktur pemerintahan kembali berubah.
Pada sekitar dekade 1950-an, Sangkulirang berada dalam struktur Kawedanan. H.M. Kaderi Oening dikenang sebagai salah satu pemimpin pada masa itu.
Memasuki dekade 1960-an, Sangkulirang berkembang menjadi kecamatan. H.M. Rusli, BA dikenal sebagai camat pertama. Hingga sekarang, Sangkulirang menjadi salah satu kecamatan yang memiliki perjalanan administratif panjang di wilayah yang kini menjadi Kabupaten Kutai Timur.
Sejarah Juga Hidup di Dalam Keluarga
Tetapi sejarah suatu kampung tentu bukan hanya sejarah pejabat dan pemerintahan.
Sejarah sesungguhnya juga hidup di rumah-rumah penduduk.
Ia tersimpan dalam nama keluarga, cerita para nenek, perjalanan para perantau, perkawinan antarsuku, kebiasaan masyarakat, bahasa sehari-hari, tradisi, makanan, hingga cara orang saling menyapa.
Saya merasakan itu dalam perjalanan keluarga saya sendiri.
Takdir mempertemukan saya dengan istri saya, Kamariah, yang oleh orang-orang di kampung biasa dipanggil Imay. Ia juga urang Sangkulirang.
Melalui dirinya, hubungan saya dengan sejarah keluarga-keluarga Sangkulirang semakin kuat.
Dari garis keluarganya mengalir darah Banjar Pamangkih. Dalam cerita yang diwariskan keluarga, para leluhur pernah bermukim di wilayah Pridan sebelum kemudian berpindah menuju Pulau Sangkuang dan kawasan Sangkulirang.
Dari garis neneknya terdapat pula cerita tentang darah Banjar, Kutai, dan Bugis.
Nama-nama seperti Dayang, Gusti, dan Awang masih dikenang dalam cerita keluarga. Nama-nama itu bukan sekadar sebutan. Di belakangnya terdapat jejak sejarah, hubungan kekerabatan, migrasi, dan perjumpaan antarmasyarakat yang berlangsung selama beberapa generasi.
Mungkin begitulah Sangkulirang terbentuk.
Ia adalah tanah tempat berbagai akar bertemu.
Banjar datang dan menetap. Bugis hadir membawa sejarah pelayaran dan perdagangan. Masyarakat Kutai memberi warna kebudayaan. Komunitas lokal menjaga hubungan panjang dengan tanahnya. Para pendatang dari berbagai tempat kemudian ikut membangun kehidupan bersama.
Mereka mungkin berasal dari garis berbeda, tetapi akhirnya dipertemukan oleh sebuah kampung.
Sangkulirang.
Sekolah, Kenangan, dan Jalan Kehidupan
Karena itu, ketika saya menyebut nama Sangkulirang, yang muncul dalam ingatan bukan sekadar nama kecamatan dalam peta Kabupaten Kutai Timur.
Yang hadir adalah wajah kedua orang tua saya.
Yang hadir adalah rumah dan lingkungan tempat kami tumbuh.
Yang hadir adalah masa kanak-kanak ketika saya belajar di TK Ananda, kemudian menjalani pendidikan sekolah dasar hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan menengah di SMA YPS Sangkulirang, yang pada masa itu merupakan sekolah filial dari SMAN 1 Bontang.
Dari Sangkulirang perjalanan pendidikan membawa saya semakin jauh.
Saya kemudian menempuh pendidikan tinggi hingga akhirnya menyelesaikan pendidikan doktoral, S3, di Universitas Mulawarman.
Perjalanan itu mengajarkan kepada saya sesuatu yang sederhana tetapi mendalam: pendidikan dapat membawa manusia pergi sangat jauh, tetapi pendidikan seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan ingatan terhadap tempat yang membentuknya.
Justru semakin luas dunia yang kita lihat, semakin kita memahami arti sebuah kampung halaman.
Sebab kampung halaman tidak hanya memberikan alamat.
Ia memberikan identitas.
Di sanalah kita pertama kali mengenal persahabatan. Mengenal perbedaan. Belajar menghormati orang yang lebih tua. Belajar hidup bersama orang-orang yang mungkin berbeda suku dan asal-usul. Belajar bahwa masyarakat dibangun bukan hanya oleh kesamaan darah, tetapi oleh kesediaan untuk saling menerima.
Jangan Biarkan Sejarah Kampung Hilang
Nilai semacam itulah yang menurut saya perlu diwariskan kepada generasi muda Sangkulirang.
Anak-anak Sangkulirang boleh bersekolah setinggi mungkin. Mereka boleh bekerja di Samarinda, Balikpapan, Jakarta, bahkan ke berbagai penjuru dunia.
Tetapi jangan sampai mereka kehilangan cerita tentang kampungnya.
Mereka perlu mengetahui siapa orang-orang yang dahulu membuka permukiman. Bagaimana kehidupan masyarakat pesisir berkembang. Bagaimana hubungan antara masyarakat adat, Kesultanan Kutai, para pedagang, dan para pendatang membentuk Sangkulirang seperti yang kita kenal hari ini.
Sejarah lokal jangan hanya hidup di ingatan orang-orang tua.
Ia perlu ditulis.
Dokumen lama perlu dikumpulkan. Foto-foto keluarga perlu diselamatkan. Makam tokoh masyarakat perlu didata. Cerita lisan para sesepuh perlu direkam sebelum generasi mereka pergi.
Sebab kehilangan sejarah berarti kehilangan sebagian identitas.
Sangkulirang hari ini tentu telah berubah.
Jalan bertambah. Teknologi semakin dekat. Anak-anak muda berhadapan dengan dunia digital yang hampir tidak mengenal batas. Mobilitas manusia semakin tinggi.
Perubahan adalah sesuatu yang tidak mungkin dihindari.
Namun kemajuan sebuah daerah seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak bangunan baru yang berdiri atau seberapa ramai kegiatan ekonominya.
Kemajuan juga harus terlihat dari kemampuan masyarakat menjaga ingatan kolektifnya.
Daerah yang maju adalah daerah yang mengetahui dari mana ia berasal.
Tanah Tempat Cinta dan Kehilangan Bertemu
Bagi saya pribadi, hubungan dengan Sangkulirang bahkan jauh melampaui kenangan masa sekolah dan perjalanan kehidupan.
Tanah ini juga menjadi tempat peristirahatan terakhir orang tua saya.
Sejak tahun 2010, salah seorang yang paling berarti dalam kehidupan kami telah kembali menghadap Ilahi Rabbi dan dimakamkan di Pemakaman Muslimin Sangkulirang, meninggalkan ibu, saya, dan adik-adik dalam perjalanan kehidupan masing-masing.
Sejak itu, makna Sangkulirang bagi saya semakin dalam.
Ia bukan hanya tanah tempat keluarga kami bertumbuh.
Ia juga tanah tempat kami menitipkan orang-orang yang kami cintai kepada keabadian.
Barangkali karena itulah manusia memiliki hubungan yang begitu kuat dengan kampung halaman.
Di sana ada kelahiran.
Ada pertemuan.
Ada perjuangan.
Ada cinta.
Ada kehilangan.
Dan ada makam orang-orang yang dahulu mengajarkan kepada kita bagaimana menjalani kehidupan.
Akar yang Selalu Menunjukkan Jalan Pulang
Semakin jauh perjalanan membawa saya, semakin saya memahami bahwa manusia boleh pergi ke mana saja.
Kita boleh menempuh pendidikan setinggi mungkin. Menduduki berbagai amanah. Mengenal banyak kota. Bertemu begitu banyak manusia.
Namun ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa kita tinggalkan: akar.
Akar itulah yang diam-diam menjaga kita agar tidak kehilangan arah ketika kehidupan berubah.
Bagi saya, akar itu bernama Sangkulirang.
Tanah tempat orang tua saya membangun kehidupan.
Tanah tempat masa kecil saya tumbuh.
Tanah tempat keluarga kami berakar.
Tanah tempat berbagai suku dan kebudayaan bertemu.
Tanah tempat sebagian orang yang saya cintai kini beristirahat.
Dan sejauh apa pun perjalanan kehidupan membawa saya pergi, Sangkulirang akan selalu menjadi tempat hati saya mengetahui jalan untuk pulang.
Dr. Agusriansyah Ridwan, S.IP., M.Si.
