Jombang – Di tengah gegap gempita Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), ada “pasukan tanpa panggung” yang terus bergerak dari satu titik ke titik lain. Mereka adalah para wartawan yang bekerja di balik keramaian Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, selama rangkaian muktamar pada Kamis (27/8/2026) hingga Senin (31/8/2026).
Ketika ribuan peserta serta ratusan ribu warga memadati kawasan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU, perhatian masyarakat memang lebih banyak tertuju pada persidangan, tokoh-tokoh yang hadir, keputusan organisasi, hingga dinamika penentuan arah kepemimpinan NU. Namun di antara padatnya aktivitas tersebut, awak media terus menjalankan tugas untuk memastikan setiap informasi penting dapat segera diketahui masyarakat yang tidak hadir langsung di lokasi.
Para wartawan datang bukan sebagai peserta maupun penggembira. Mereka membawa tanggung jawab jurnalistik, mulai mencari dan memverifikasi fakta, mengejar narasumber, merekam peristiwa, melakukan wawancara, mengambil foto dan video, menulis laporan hingga mengirimkan materi kepada redaksi. Ritme kerja tersebut berlangsung sejak pagi dan dalam sejumlah kesempatan baru berakhir larut malam.
Situasi di lapangan pun tidak selalu bersahabat. Teriknya matahari, debu dari jalanan, kemacetan kendaraan serta padatnya manusia menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari. Wartawan harus berpindah lokasi untuk mendapatkan informasi terbaru, menunggu hasil persidangan, mencari kesempatan mewawancarai tokoh NU maupun tamu penting, hingga berdiri dalam waktu lama untuk memperoleh gambar terbaik.
“Saya bersama crew TV ditugasi pimpinan untuk meliput selama muktamar berlangsung,” tutur seorang crew televisi nasional asal Jakarta saat ditemui menjelang penutupan di sekitar Gedung Serbaguna (GSG) PP Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Setelah informasi diperoleh, pekerjaan awak media belum berakhir. Hasil wawancara harus ditranskripsikan, data diperiksa kembali, berita disusun, foto dipilih, dan video diedit sebelum dikirimkan ke kantor redaksi. Kecepatan menjadi tuntutan karena perkembangan informasi di arena muktamar berlangsung sangat dinamis. Meski demikian, ketepatan dan akurasi tetap menjadi bagian penting dari proses pemberitaan.
Di tengah ritme kerja tersebut, Media Center yang disediakan panitia menjadi salah satu titik penting bagi para jurnalis. Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 NU menyediakan ruang kerja di kawasan Sekretariat Yayasan PP Bahrul Ulum Tambakberas. Tempat itu menjadi ruang singgah sekaligus “rumah kedua” bagi awak media selama menjalankan tugas.
Di Media Center, wartawan dapat menyusun berita, mengolah foto dan video, mengirim laporan kepada redaksi hingga beristirahat sebelum kembali menuju lokasi peliputan. Sejumlah fasilitas juga disediakan panitia, antara lain jaringan Wi-Fi, perangkat komputer, layar monitor berukuran besar, konsumsi serta ruang untuk melaksanakan salat.
Pantauan di lokasi memperlihatkan ruang tersebut digunakan bergantian oleh jurnalis dari berbagai platform media. Awak televisi nasional, media cetak maupun media daring tampak memanfaatkan fasilitas yang tersedia, antara lain dari TV One, Metro TV, SCTV, Media Indonesia, NU Online, TVRI serta sejumlah media lainnya.
Namun teknologi yang seharusnya membantu percepatan kerja justru beberapa kali menjadi tantangan tersendiri. Koneksi internet yang tidak selalu stabil membuat pengiriman berita, foto maupun video mengalami kendala. Di tengah kebutuhan media digital yang mengandalkan kecepatan publikasi, persoalan jaringan dapat membuat pekerjaan tertunda.
“Sering tersendat, gangguan sinyal. Kerja jadi tidak nyaman. Padahal informasi itu harus update terus,” keluh seorang wartawan yang ditemui di Media Center.
Gangguan jaringan membuat berita yang telah selesai ditulis terkadang tidak dapat langsung dikirim. Hal serupa terjadi ketika wartawan mengunggah foto beresolusi besar maupun mengirim video hasil liputan kepada redaksi. Kondisi itu memaksa awak media mencari berbagai cara agar laporan tetap dapat diterima tepat waktu.
Tantangan wartawan juga muncul ketika akses terhadap informasi tertentu tidak selalu terbuka dengan mudah. Dalam sejumlah momentum, termasuk ketika terjadi unjuk rasa di kawasan pusat pelaksanaan muktamar, awak media harus bergerak cepat mencari informasi, mengonfirmasi situasi dan memperoleh keterangan dari berbagai pihak. Kepadatan serta pengamanan di sejumlah titik turut membuat ruang gerak peliputan menjadi lebih terbatas.
Di tengah situasi tersebut, wartawan tetap dituntut menjaga fokus. Kecepatan memperoleh informasi tidak boleh mengalahkan kewajiban melakukan verifikasi. Setiap informasi yang beredar harus diperiksa agar pemberitaan tidak sekadar cepat, tetapi juga akurat serta berimbang.
Muktamar ke-35 NU bukan hanya perhelatan besar sebuah organisasi. Forum tersebut memuat dinamika persidangan, perdebatan, keputusan strategis dan arah kepemimpinan NU untuk lima tahun berikutnya. Karena itu, setiap peristiwa yang terjadi selama muktamar memiliki nilai dokumentasi bagi perjalanan organisasi.
Peran pers menjadi penting karena wartawan tidak hanya merekam apa yang terlihat di panggung utama. Mereka juga menggali dinamika di balik persidangan, mendengarkan pandangan peserta, meminta konfirmasi kepada pihak terkait serta menyampaikan perkembangan kepada masyarakat melalui berbagai kanal media.
Ketika seluruh rangkaian Muktamar ke-35 NU berakhir pada Senin (31/8/2026), kesuksesan acara tidak hanya menyisakan cerita tentang panitia, peserta, tokoh NU ataupun kemeriahan masyarakat. Ada pula kisah para jurnalis yang bekerja di balik layar, mengejar informasi ketika orang lain menunggu keputusan dan tetap menulis ketika sebagian orang telah meninggalkan arena.
Panas, debu, kemacetan, keterbatasan akses hingga gangguan sinyal menjadi bagian dari perjalanan mereka selama lima hari pelaksanaan muktamar. Melalui foto, rekaman video dan tulisan yang dikirim ke berbagai redaksi, para wartawan ikut mendokumentasikan perjalanan Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang, sekaligus memastikan masyarakat tidak kehilangan informasi mengenai salah satu peristiwa penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.
