Relasi setara menjadi gagasan utama dalam perkembangan ecofeminisme yang kini memasuki paradigma baru. Jika sebelumnya pendekatan ini kerap dipahami sebagai gerakan yang berfokus pada perjuangan perempuan, kini ecofeminisme berkembang menjadi cara pandang yang menempatkan manusia sebagai bagian dari ekosistem. Manusia tidak lagi diposisikan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai salah satu unsur dalam jaringan kehidupan yang saling bergantung. Pergeseran paradigma ini menjadi penting di tengah meningkatnya berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi dunia.
Berbagai krisis ekologis yang terjadi saat ini memperlihatkan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya dipicu oleh faktor teknis atau keterbatasan teknologi. Permasalahan tersebut berakar pada cara manusia memandang alam sebagai objek ekonomi yang dapat dieksploitasi tanpa batas. Pandangan yang bersifat antroposentris telah melahirkan pola dominasi terhadap lingkungan sekaligus memperbesar berbagai bentuk ketimpangan sosial. Karena itu, penyelesaian krisis lingkungan memerlukan perubahan cara berpikir sebelum menghadirkan solusi teknologi.
Dalam sesi diskusi, narasumber Naila menjelaskan bahwa ecofeminisme membawa konsep interconnectedness atau keterhubungan. Menurutnya, seluruh bentuk penindasan memiliki akar yang sama, yaitu budaya dominasi.
“Ketika manusia merasa berhak menguasai pihak lain, pola yang sama juga muncul dalam cara manusia memperlakukan alam.”
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap perempuan, kerusakan lingkungan, rasisme, hingga ketimpangan sosial tidak berdiri sendiri. Semua persoalan tersebut lahir dari paradigma yang menempatkan satu pihak lebih tinggi daripada pihak lain. Karena itu, membangun keadilan ekologis juga berarti membangun keadilan sosial secara bersamaan.
Diskusi juga meluruskan anggapan bahwa ecofeminisme hanya membahas persoalan perempuan. Perempuan memang sering dijadikan contoh karena secara historis mengalami relasi yang tidak setara. Namun, esensi ecofeminisme jauh lebih luas. Pendekatan ini mengkritik seluruh bentuk hubungan yang bersifat eksploitatif, baik antarmanusia maupun hubungan manusia dengan alam. Tujuannya adalah membangun relasi yang lebih adil, saling menghormati, dan saling menjaga keberlangsungan kehidupan.
Contoh nyata perubahan relasi manusia dengan alam terlihat dalam kehidupan masyarakat modern. Industrialisasi dan perkembangan pasar membuat sebagian besar kebutuhan diperoleh secara instan melalui pusat perbelanjaan. Akibatnya, banyak orang tidak lagi mengenal proses alam yang menghasilkan pangan, air, maupun sumber daya lainnya. Keterasingan tersebut membuat kepedulian terhadap lingkungan semakin berkurang. Pepatah “tak kenal maka tak sayang” menjadi gambaran sederhana bahwa kedekatan dengan alam akan melahirkan rasa memiliki dan tanggung jawab untuk menjaganya.
Dalam konteks pendidikan, ecofeminisme memiliki titik temu dengan Kurikulum Fotosintesis Tjokronesia. Keduanya memandang alam bukan sekadar objek pembelajaran, tetapi sebagai mitra kehidupan yang perlu dihormati. Ecofeminisme menawarkan landasan etis dalam membangun hubungan dengan lingkungan, sedangkan Kurikulum Fotosintesis menerjemahkan nilai tersebut melalui proses pendidikan, pembentukan karakter, dan pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kesamaan keduanya terlihat pada upaya menumbuhkan kepedulian lingkungan, membangun tanggung jawab ekologis, serta membiasakan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup.
Narasumber juga menekankan bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada memahami konsep, melainkan menjaga konsistensi dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup diwujudkan melalui slogan atau kampanye sesaat. Perubahan nyata lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang, seperti mengurangi sampah, merawat tanaman, menghemat air, hingga menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Kesadaran ekologis juga dapat dimulai melalui praktik mindfulness. Tidak harus mengunjungi hutan atau kawasan konservasi. Manusia dapat membangun kedekatan dengan alam melalui hal-hal sederhana, seperti memperhatikan pohon di halaman rumah, menikmati udara pagi, mendengarkan suara burung, atau mengamati perubahan musim. Kedekatan emosional tersebut akan menumbuhkan rasa syukur sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
Pada akhirnya, ecofeminisme mengingatkan bahwa krisis lingkungan bukan sekadar persoalan teknologi, tetapi persoalan paradigma. Kurikulum Fotosintesis Tjokronesia menawarkan ruang pendidikan yang memperkuat perubahan cara pandang tersebut melalui pembentukan karakter yang peduli, bertanggung jawab, dan hidup selaras dengan alam. Ketika manusia kembali menyadari dirinya sebagai bagian dari jaringan kehidupan, harapan untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan menjadi semakin nyata.
