Kebumen – Seperti embun yang menyejukkan di tengah perjalanan panjang para santri, program tali asih (bisarah) bagi penghafal Al-Qur’an di Jawa Tengah disebut membawa manfaat nyata. Tidak sekadar simbol penghargaan, bantuan tersebut menjadi penguat ekonomi sekaligus dorongan moral bagi para penghafal kitab suci.
Program yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur ini diberikan kepada santri yang berhasil menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Setiap penerima memperoleh tali asih sebesar Rp1 juta tanpa memandang asal daerah. Program ini disampaikan dalam kegiatan Haul dan Haflah Khotmil Qur’an di PPTQ Quantum Qolbu, Petanahan, Kebumen, pada Ahad (3/5/2026).
“Saya sempat kaget ketika beliau datang dan mengucapkan terima kasih. Ternyata anaknya merupakan salah satu penerima bisarah dari Pemprov Jateng,” ujar Taj Yasin.
Ia menjelaskan, kisah tersebut datang dari seorang wali santri asal Papua yang sengaja hadir untuk menyampaikan apresiasi. Hal itu menunjukkan bahwa dampak program tidak hanya dirasakan oleh santri lokal, tetapi juga menjangkau keluarga dari berbagai daerah di Indonesia.
“Ini bentuk penghargaan sekaligus penyemangat. Tidak hanya untuk santri, tetapi juga bagi orang tua yang selama ini turut berjuang mendampingi anak-anaknya,” lanjutnya.
Menurut Taj Yasin yang juga menjabat Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jawa Tengah, Al-Qur’an memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda. Oleh karena itu, pemerintah daerah berupaya terus mendorong lahirnya lebih banyak penghafal Al-Qur’an sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia berbasis nilai religius.
Data dari Pemprov Jawa Tengah menunjukkan, setiap tahun sekitar 2.000 santri berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz. Angka tersebut sejalan dengan alokasi anggaran program bisarah yang mencapai lebih dari Rp2 miliar per tahun. Dukungan anggaran ini menjadi bukti komitmen pemerintah dalam menjaga keberlangsungan program.
Salah satu penerima manfaat, Nisvia Nurlaila, mengaku bantuan tersebut memberi semangat tambahan dalam mendalami Al-Qur’an. Ia menyelesaikan hafalan dalam waktu sekitar tujuh tahun, sebuah proses yang menurutnya penuh tantangan.
“Penghargaan ini membuat kami semakin bersemangat dalam mempelajari Al-Qur’an,” ungkap Nisvia.
Ia juga menceritakan rekannya, Khairani, yang mampu menghafal 30 juz dalam waktu tiga tahun. Keduanya kini menempuh pendidikan di MA NU Darussaadah Kebumen, sembari terus memperdalam pemahaman keislaman.
Dalam kegiatan tersebut, lima santri yang telah menuntaskan hafalan Al-Qur’an menerima bisarah secara langsung. Momentum ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga simbol pengakuan atas kerja keras dan dedikasi para santri.
Program bisarah diharapkan terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak penerima. Dengan dukungan berkelanjutan, pemerintah optimistis akan lahir generasi Qur’ani yang tidak hanya kuat dalam hafalan, tetapi juga mampu berkontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa
