Mojokerto – Di saat pasar belum tentu dekat dan waktu pagi bergerak secepat air mendidih di dapur, pedagang sayur keliling justru datang seperti jawaban sederhana bagi warga Dusun Kepuh Sawo, Desa Mojorejo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Kehadiran mereka membuat urusan belanja harian terasa lebih ringan, terutama bagi ibu rumah tangga yang membutuhkan bahan masakan segar tanpa harus meninggalkan rumah.
Sejak pagi, sekitar pukul 06.30 WIB pada Selasa (10/3/2026), pedagang sayur mulai memasuki permukiman warga dengan sepeda motor yang dimodifikasi membawa keranjang dan wadah berisi aneka kebutuhan dapur. Dagangan yang dibawa umumnya berupa sayuran segar seperti bayam, kangkung, dan wortel, ditambah bumbu dapur serta bahan pelengkap masakan lain yang biasa dicari untuk kebutuhan sehari-hari. Pola jual beli seperti ini dinilai efisien karena warga tidak perlu menuju pasar tradisional yang jaraknya lebih jauh dan membutuhkan waktu lebih banyak.
“Biasanya ibu-ibu sudah menunggu di depan rumah. Mereka membeli sayur untuk kebutuhan masak hari itu,” ujar Widi (45), pedagang sayur keliling yang telah menekuni pekerjaan tersebut selama lebih dari lima tahun.
Menurut Widi, kebiasaan warga berbelanja dari pedagang keliling tidak lepas dari faktor kepraktisan. Ia mengatakan, pelanggan tetapnya sebagian besar adalah ibu rumah tangga yang membutuhkan bahan segar dalam jumlah secukupnya. Dengan cara itu, warga dapat langsung menyesuaikan belanja dengan menu yang akan dimasak pada hari yang sama, tanpa harus membeli dalam jumlah besar seperti saat pergi ke pasar.
Kehadiran pedagang sayur keliling juga memberi keuntungan dari sisi waktu. Pada jam-jam awal pagi, banyak warga masih disibukkan dengan pekerjaan rumah, menyiapkan sarapan, mengurus anak, atau bersiap menjalani aktivitas harian. Dalam situasi seperti itu, layanan belanja yang datang langsung ke depan rumah menjadi pilihan yang dianggap paling membantu. Selain lebih hemat tenaga, warga juga bisa tetap memenuhi kebutuhan dapur dengan cepat.
“Kalau ada pedagang keliling seperti ini jadi lebih mudah. Tinggal keluar rumah sudah bisa beli sayur,” kata Ibu Luluk (34), salah satu warga Dusun Kepuh Sawo.
Pengakuan warga tersebut menunjukkan bahwa keberadaan pedagang sayur keliling bukan sekadar aktivitas ekonomi biasa, melainkan bagian dari layanan informal yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Bagi sebagian keluarga, pola belanja seperti ini terasa lebih ramah karena pembeli bisa langsung memilih bahan yang diperlukan sesuai anggaran harian. Hubungan antara penjual dan pembeli pun kerap terjalin akrab karena pertemuan berlangsung rutin hampir setiap pagi.
Aktivitas jual beli di Dusun Kepuh Sawo biasanya berlangsung hingga sekitar pukul 09.00 WIB. Setelah itu, pedagang melanjutkan perjalanan ke desa lain untuk melayani pelanggan berikutnya. Rute berpindah dari satu kampung ke kampung lain menjadi cara para pedagang menjaga kelangsungan usaha, sekaligus memperluas jangkauan layanan mereka di kawasan pedesaan.
Di tengah perubahan pola belanja masyarakat, pedagang sayur keliling tetap memiliki tempat tersendiri. Mereka hadir bukan hanya membawa bayam, kangkung, atau bumbu dapur, tetapi juga membawa kemudahan bagi warga yang ingin serba cepat dan praktis. Warga Dusun Kepuh Sawo pun berharap keberadaan pedagang seperti ini dapat terus bertahan, karena telah menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan harian keluarga.
