Surabaya – Di bawah langit malam yang sarat makna, kidung Jawa mengalun lembut menyatu dengan doa lintas iman. Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog memperingati hari lahir ke-3 mereka dalam balutan tradisi Malam Anggoro Kasih, yang digelar di kawasan Arca Joko Dolog, Jalan Taman Apsari, Kecamatan Genteng, Senin (16/02/2025) malam.
Kegiatan rutin yang biasa dilaksanakan setiap malam Selasa Kliwon itu kali ini dirangkai dengan Tasyakuran Amengeti Ambal Warsa Kaping 3 serta peringatan Malam Tahun Baru Imlek. Rangkaian acara diisi dengan kidung tembang Jawa, macapat, doa lintas agama, sinau budaya, hingga pemotongan tiga tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan organisasi yang telah memasuki tahun ketiga.
Ketua panitia, Eva Tan, menjelaskan bahwa peringatan tersebut menjadi momentum refleksi atas kiprah komunitas dalam merawat budaya lokal.
“Amengeti Ambal Warsa Kaping 3 adalah suatu kegiatan yang diselenggarakan dalam rangka memperingati hari jadi organisasi Abdi Dalem Eyang Joko Dolog yang ke tiga tahun,” kata Eva.
Ia menambahkan, peringatan ini tidak hanya sebagai seremoni, tetapi juga penguatan komitmen dalam menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur. Tradisi Malam Anggoro Kasih sendiri telah menjadi agenda rutin yang konsisten digelar sebagai wujud penghormatan terhadap cagar budaya setempat.
Ketua Abdi Dalem Eyang Joko Dolog, Khoirul Anam, menyampaikan bahwa selama tiga tahun berjalan, organisasi ini telah menyelenggarakan berbagai kegiatan kebudayaan yang bersinergi dengan komunitas seni dan budaya lainnya di Surabaya.
“Abdi Dalem Eyang Joko Dolog adalah sebuah organisasi kebudayaan non politik, sebagai wadah aspirasi dan edukasi masyarakat tentang kebudayaan,” tegasnya.
Menurut Khoirul, keberadaan organisasi ini bertujuan untuk menjaga, merawat, serta mengenalkan Arca Joko Dolog sebagai bagian penting dari sejarah Nusantara kepada masyarakat luas. Ia berharap di usia ketiga ini, komunitas semakin solid, berkembang, dan tetap konsisten dalam mengawal pelestarian budaya.
Puncak acara ditandai dengan prosesi pemotongan tumpeng oleh Romo Taufik Monyong selaku pembina, yang kemudian diserahkan kepada Khoirul Anam sebagai simbol keberlanjutan estafet pengabdian. Prosesi tersebut berlangsung khidmat dan disaksikan para anggota serta tamu undangan yang hadir.
Acara kemudian ditutup dengan ramah tamah dan sesi berbagi kisah tentang awal mula berdirinya Seduluran Abdi Dalem Eyang Joko Dolog. Cerita perjuangan komunitas dalam merawat sejarah dan menghidupkan kembali nilai-nilai kearifan lokal menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan sekadar seremoni, melainkan tanggung jawab bersama.
Peringatan hari lahir ke-3 ini menjadi penegasan bahwa upaya menjaga warisan budaya di tengah modernitas tetap relevan dan penting. Di jantung Kota Surabaya, semangat merawat sejarah terus menyala melalui langkah kecil namun konsisten dari para abdi budaya.
