Warna-warni perayaan Waisak di Indonesia mencerminkan keberagaman budaya dan kekayaan spiritual masyarakat Nusantara. Meski inti perayaan sama, memperingati kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha, setiap daerah memiliki cara unik dalam mengekspresikannya. Berikut tujuh tradisi khas Waisak yang berlangsung di berbagai wilayah Indonesia.
1. Pelepasan Lampion di Borobudur, Magelang
Candi Borobudur menjadi ikon utama perayaan Waisak di Indonesia. Ribuan umat Buddha dari dalam dan luar negeri berkumpul untuk mengikuti prosesi pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi candi sambil bermeditasi.
Puncak perayaan diwarnai pelepasan ribuan lampion ke langit malam, sebagai simbol pelepasan harapan dan doa untuk dunia yang damai. Pada Waisak 2025, sebanyak 2.569 lampion diterbangkan dalam prosesi ini.
2. Air Suci dari Umbul Jumprit, Temanggung
Air suci menjadi elemen penting dalam perayaan Waisak. Di Temanggung, Jawa Tengah, air diambil dari sumber alami Umbul Jumprit yang diyakini suci.
Air ini kemudian digunakan untuk ritual penyucian rupang Buddha dan disemayamkan di altar Candi Mendut sebelum prosesi utama menuju Borobudur. Tradisi ini berlangsung dengan khidmat dan penuh makna spiritual.
3. Prosesi Tiga Candi: Mendut-Pawon-Borobudur
Tradisi jalan kaki dari Candi Mendut ke Candi Pawon dan berakhir di Candi Borobudur dikenal sebagai prosesi “Tiga Candi”. Umat membawa rupa Buddha, lilin, bunga, dan dupa sambil bermeditasi sepanjang jalan.
Prosesi ini melambangkan perjalanan spiritual menuju pencerahan dan menjadi ciri khas perayaan Waisak di Magelang.
4. Ritual “San Bu Yi Bai” di Taman Lumbini, Berastagi
Taman Alam Lumbini di Berastagi, Sumatera Utara, menjadi pusat perayaan Waisak di kawasan barat Indonesia. Tradisi unik di sini adalah “San Bu Yi Bai” atau sujud setiap tiga langkah yang dilakukan oleh umat.
Upacara ini mengekspresikan penghormatan dan refleksi diri secara mendalam. Pagoda emas yang menjulang menjadi latar spiritual yang megah.
5. Waisak Harmoni di Dusun Thekelan, Semarang
Dusun Thekelan di lereng Gunung Merbabu merayakan Waisak dengan semangat kerukunan. Umat Buddha dan warga dari agama lain bersatu dalam kirab budaya dan doa bersama.
Kegiatan ini menjadi simbol toleransi dan kolaborasi antar umat beragama, memperkuat harmoni sosial di tingkat desa.
6. Perayaan Waisak di Maha Vihara Maitreya, Batam
Vihara terbesar di Asia Tenggara, Maha Vihara Maitreya, menjadi pusat perayaan Waisak di Kepulauan Riau. Kegiatan seperti pemandian rupang Buddha, bazar vegetarian, dan doa bersama menjadi bagian dari rangkaian acara.
Festival ini melibatkan berbagai komunitas etnis dan menjadi ajang promosi nilai damai dan cinta kasih universal.
7. Nuansa Bali dalam Waisak
Meski Bali mayoritas Hindu, perayaan Waisak tetap berlangsung damai dan harmonis. Di vihara seperti Buddha Sakyamuni, umat Buddha berbaur dengan budaya lokal dalam upacara puja bakti dan meditasi.
Perayaan ini menjadi bukti kuatnya toleransi di Pulau Dewata.
Waisak di Indonesia tidak hanya peristiwa spiritual, tapi juga pesta budaya yang mempererat kerukunan antar umat. Setiap tradisi mencerminkan bagaimana ajaran damai Buddha hidup berdampingan dengan kekayaan budaya lokal.
