Kesehatan mental digital menjadi ladang baru yang penuh paradoks bagi Gen Z. Di tengah kampanye self-love yang menggema di media sosial, banyak dari mereka justru terjebak dalam pusaran overthinking, self-diagnose, dan tren healing yang seringkali hanya bersifat simbolik.
Gen Z, generasi yang lahir antara 1997 hingga 2012, tumbuh di era internet, krisis iklim, dan ketidakpastian sosial-ekonomi. Lingkungan ini menciptakan tekanan yang besar terhadap kondisi mental mereka. Studi oleh Twenge et al. (2019) menunjukkan lonjakan tajam angka depresi dan kecemasan sejak 2012, seiring dengan melonjaknya penggunaan media sosial.
Media sosial kini menjadi tempat edukasi dan ekspresi soal mental health. Sayangnya, konten viral sering menggantikan edukasi ilmiah. Banyak pengguna muda mengaku mengalami ADHD, bipolar, atau depresi hanya berdasarkan video di TikTok atau Instagram—tanpa konsultasi profesional.
“Self-diagnosing melalui internet dapat menyebabkan mispersepsi terhadap gejala dan meningkatkan ketakutan berlebih,” tulis Royal College of Psychiatrists (2021). Hal ini dikenal sebagai health anxiety, yaitu rasa cemas berlebih karena salah interpretasi gejala mental.
Di sisi lain, budaya healing turut menyita perhatian. Gen Z kerap membagikan momen journaling, staycation, hingga minum kopi di kafe estetik sebagai bentuk self-care. Namun menurut studi oleh Berryman et al. (2022), budaya healing yang marak di media sosial sering kali hanya menjadi mekanisme coping superfisial.
“Banyak Gen Z merasa healed hanya karena mengikuti tren, bukan karena telah menghadapi akar masalah mereka,” ungkap penelitian tersebut dalam jurnal Youth & Society. Hal ini menunjukkan bahwa self-care tidak cukup jika hanya dilakukan secara estetis tanpa disertai proses penyembuhan psikologis yang mendalam.
Meski begitu, meningkatnya kesadaran akan pentingnya mental health tetap menjadi kemajuan. Tantangannya kini adalah mengarahkan kesadaran itu pada tindakan nyata. Edukasi psikologi yang benar, terbukanya akses ke layanan profesional, dan hilangnya stigma terhadap terapi adalah langkah vital menuju kesehatan mental kolektif yang lebih kuat.
Masyarakat, khususnya generasi muda, perlu memahami bahwa healing bukan kompetisi gaya hidup, melainkan perjalanan internal yang memerlukan konsistensi dan keberanian.
