BOGOR – Pengelolaan sampah organik dan konservasi air dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga. Melalui kolaborasi dengan PT EOS Consultants, Program Studi Manajemen Sumber Daya Perairan (MSP), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), mengajak warga RT 2/3 Kelurahan Kayu Manis, Kecamatan Tanah Sereal, Kota Bogor, menerapkan Lubang Resapan Biopori (LRB) dan komposter rumah tangga sebagai solusi sederhana untuk mendukung pengelolaan lingkungan berkelanjutan.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan pada Minggu (4/10/2026) tersebut diikuti oleh 24 warga.
Dalam kegiatan ini, warga tidak hanya memperoleh edukasi mengenai konservasi air dan pengelolaan sampah organik, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pembuatan dua Lubang Resapan Biopori sebagai unit percontohan serta penggunaan komposter rumah tangga.
Ketua Program Studi MSP FPIK UB, Prof. Uun Yanuhar, menyampaikan apresiasi atas sambutan masyarakat dan berharap pengetahuan yang diberikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami sangat berterima kasih karena telah disambut dengan baik oleh masyarakat. Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan yang diperoleh bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Lubang Resapan Biopori diperkenalkan sebagai teknologi sederhana yang dapat membantu meningkatkan peresapan air hujan ke dalam tanah sekaligus memanfaatkan sampah organik.
Lubang yang dibuat secara vertikal tersebut dapat diisi dengan daun, rumput, kulit buah, dan sisa sayuran yang akan mengalami proses dekomposisi secara bertahap.
Melalui pendekatan ini, warga diajak memahami bahwa sampah organik tidak selalu harus berakhir sebagai limbah, tetapi dapat dimanfaatkan kembali menjadi kompos untuk tanaman.
Praktik tersebut turut mendukung Sustainable Development Goal (SDG) 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, melalui upaya konservasi air pada skala rumah tangga, serta SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui pengurangan sampah organik dan pemanfaatan kembali bahan yang masih bernilai guna.
Pelatihan juga mencakup tahapan pembuatan biopori, mulai dari penentuan lokasi yang aman, pengeboran tanah secara vertikal, pemasangan penguat pada mulut lubang, hingga pengisian bahan organik dan pemasangan penutup.
Warga diperkenalkan pada pentingnya memperhatikan kondisi tanah dan muka air tanah dalam menentukan kedalaman lubang.
Namun, mengingat tidak semua rumah memiliki pekarangan dengan tanah terbuka, tim juga memperkenalkan komposter rumah tangga sebagai alternatif yang lebih fleksibel untuk mengolah sampah organik.
Melalui praktik penggunaan komposter, warga mempelajari tahapan pengolahan sampah organik menggunakan wadah khusus, mulai dari menyiapkan bahan dasar seperti tanah, kompos, atau arang sekam, memasukkan sampah organik yang telah dipotong kecil, menambahkan bioaktivator secukupnya, hingga melakukan perawatan dan memanen kompos matang.
Dengan memperkenalkan kedua metode tersebut, masyarakat dapat memilih pendekatan yang sesuai dengan kondisi rumah masing-masing.
Rumah yang memiliki tanah terbuka dapat memanfaatkan biopori untuk mengintegrasikan peresapan air dan pengolahan bahan organik, sedangkan rumah dengan pekarangan terbatas dapat menggunakan komposter sebagai alternatif pengelolaan sampah.
Ketua RT setempat, Pak Ade, turut menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan yang dinilai relevan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
“Kami sangat berterima kasih karena sudah berbagi ilmu kepada warga, khususnya berkaitan dengan pengelolaan sampah. Kami berharap program seperti ini tidak berhenti sampai di sini dan dapat terus berlanjut,” ungkapnya.
Antusiasme warga terlihat melalui diskusi dan berbagai pertanyaan mengenai jenis bahan organik yang dapat digunakan, perawatan biopori, pengendalian bau selama proses pengomposan, hingga pemanfaatan kompos yang telah matang.
Kolaborasi Prodi MSP FPIK UB dan PT EOS Consultants ini menunjukkan bahwa upaya menciptakan lingkungan yang lebih berkelanjutan dapat dimulai melalui perubahan kebiasaan sederhana di tingkat rumah tangga.
Pengurangan sampah dari sumbernya, pemanfaatan air hujan, serta pengolahan sampah organik menjadi kompos merupakan langkah nyata untuk mendukung SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, terutama dalam membangun lingkungan permukiman yang lebih peduli terhadap pengelolaan sumber daya dan sampah.
Kemitraan antara perguruan tinggi, sektor swasta, dan masyarakat dalam kegiatan ini juga merepresentasikan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi dalam memperluas edukasi dan penerapan praktik pengelolaan lingkungan.
Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini, FPIK UB terus mendorong penerapan ilmu pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Tim berharap warga dapat mengembangkan praktik biopori dan komposter secara mandiri, merawat sarana percontohan yang telah dibuat, serta membagikan pengetahuan kepada lingkungan sekitar.
Dengan keterlibatan aktif masyarakat, pengelolaan sampah organik dan konservasi air diharapkan dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi lingkungan permukiman.
