Mojokerto – Di tengah gempuran makanan kekinian yang kian menjamur, semangkuk tahu campur sederhana justru menjadi simbol ketahanan tradisi dan ekonomi rakyat kecil. Romli (70), warga Dusun Pesanan, Desa Bicak, Kecamatan Trowulan, masih setia menjajakan dagangannya dengan harga yang nyaris tak berubah, hanya Rp5.000 per porsi.
Usaha ini bukanlah perjalanan singkat. Romli telah melewati berbagai fase sejak memulai berdagang pada era 1980-an. Awalnya, ia berjualan bakso keliling dengan gerobak dorong, memanfaatkan peluang usaha yang kala itu masih minim pesaing. Namun, seiring waktu, semakin banyak pedagang bakso bermunculan dengan variasi menu yang lebih beragam. Kondisi tersebut mendorongnya untuk beralih menjual tahu campur pada tahun 1995 sebagai strategi bertahan.
“Karena makin banyak yang jualan bakso, saingannya banyak. Saya pilih jual tahu campur saja, yang penting masih bisa jualan dan pembeli tetap ada,” katanya.
Sejak pertama kali menjual tahu campur dengan harga sekitar Rp300 per porsi, Romli secara bertahap menyesuaikan harga mengikuti kenaikan biaya bahan pokok. Meski begitu, sejak sekitar tahun 2005, ia memutuskan untuk mempertahankan harga Rp5.000 hingga sekarang, menjadikannya salah satu kuliner paling terjangkau di wilayah tersebut.
Keputusan mempertahankan harga murah ini ternyata membawa dampak positif. Dalam sehari, Romli mampu meraih pendapatan hingga sekitar Rp350.000, meningkat dibandingkan saat ia masih berjualan bakso. Konsistensi rasa juga menjadi kunci keberhasilannya. Ia tetap menggunakan resep yang sama selama puluhan tahun, sehingga pelanggan lama tetap setia, sementara pelanggan baru terus berdatangan.
Kini, di usia senja, Romli tidak lagi berkeliling. Ia memilih berjualan menetap di depan SMA Jayanegara, mulai pukul 16.00 WIB hingga 21.00 WIB atau hingga dagangannya habis terjual. Lokasi tersebut menjadi titik temu pelanggan dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga warga sekitar.
“Yang penting bisa tetap jualan, pembeli bisa makan murah, hitung-hitung sekalian bersedekah,” tuturnya.
Salah satu pelanggan, Untung (38), mengaku rutin membeli tahu campur Romli karena cita rasanya yang khas dan harga yang sangat terjangkau.
“Rasanya enak dan beda, apalagi harganya murah. Jarang sekarang dapat makanan Rp5.000 tapi masih mengenyangkan,” ujarnya.
Kisah Romli menjadi gambaran nyata bahwa usaha kecil dengan prinsip kesederhanaan, keuletan, dan keikhlasan masih mampu bertahan di tengah persaingan kuliner modern. Lebih dari sekadar berdagang, ia menghadirkan nilai sosial dengan menyediakan makanan murah bagi masyarakat.
