Hafalan yang hidup bukan hanya yang melekat di kepala, tapi yang hadir dalam ibadah. Banyak penghafal Al-Qur’an yang cepat lupa bukan karena kurang mengulang, tetapi karena tidak membawa hafalannya ke dalam shalat. Jurus kesepuluh ini adalah penutup sekaligus penguat: ikat hafalan dengan shalat.
Al-Qur’an adalah firman Allah, dan tempat terbaik untuk membacanya adalah di hadapan-Nya langsung dalam shalat. Ketika ayat yang baru dihafal dibaca dalam rakaat salat, maka hafalan tidak lagi hanya jadi latihan, tapi menjadi ibadah yang menyentuh hati.
“Shalat adalah tempat terbaik untuk murojaah. Hafalan yang dibaca dalam shalat akan lebih mengakar,” tutur Ustaz Riyan, pengajar tahfiz dewasa di Tangerang. Ia menyarankan muridnya untuk shalat sunnah dua rakaat setiap kali selesai menghafal ayat baru.
Caranya sederhana. Setelah menghafal, langsung tunaikan shalat sunnah dua rakaat. Bacalah hafalan baru di dalamnya. Misalnya, rakaat pertama untuk bagian awal ayat, dan rakaat kedua untuk lanjutan ayat. Ini menjadikan hafalan diuji dalam suasana khusyuk dan sakral.
Efeknya sangat terasa. Saat dibaca dalam shalat, kita akan tahu bagian mana yang masih lemah, irama mana yang terganggu, dan bagian mana yang sudah menyatu dalam jiwa.
Mengapa shalat begitu efektif? Karena dalam shalat, lisan, pikiran, dan hati bekerja bersamaan. Fokus terkunci. Hati lebih tenang. Hafalan menjadi lebih kuat karena dibaca dengan penuh rasa tunduk dan harap kepada Allah.
Ingat, puncak hafalan bukan saat bisa menyetorkan satu juz, tapi saat ayat itu hadir dalam sujud dan doa. Hafalan yang ikut dalam ibadah adalah hafalan yang akan lebih lama bertahan.
Dengan menjadikan shalat sebagai ruang murojaah, Al-Qur’an tidak hanya kita hafal, tapi juga kita resapi, hidupkan, dan persembahkan kepada Allah.
