Pangandaran – Aroma manis bercampur gurih yang khas dari gula nipah kini makin jarang dijumpai di pasar tradisional Pangandaran. Padahal, gula ini berasal dari pohon nipah yang tumbuh subur di kawasan mangrove pesisir. Proses pembuatannya mirip dengan gula aren, namun dengan cita rasa unik mirip salted caramel yang sulit ditemukan pada pemanis lokal lain.
Gula nipah diolah dari nira pohon nipah (Nypa fruticans), kerabat dekat pohon aren, yang tumbuh di lingkungan pasang surut dan muara sungai. Berbeda dengan penyadapan nira kelapa atau aren yang membutuhkan keahlian memanjat pohon tinggi, nipah cukup dipanen dari buah yang menggantung rendah. Prosesnya melibatkan penyayatan pangkal buah untuk mengalirkan nira, kemudian dimasak perlahan dengan teknik khusus hingga mengental dan mengeras.
Pak Turmin, salah satu dari sedikit pembuat gula nipah yang tersisa, mengungkapkan bahwa ia memilih menekuni gula nipah karena trauma jatuh dari pohon kelapa setinggi 20 meter. “Lebih aman, tapi tantangannya beda. Kami harus siap menghadapi nyamuk ganas di hutan mangrove,” ujarnya sambil menunjukkan cara tradisional menyadap miranipah.
Ia menambahkan, saat ini hanya tersisa tiga keluarga di Pangandaran yang masih melestarikan tradisi ini. Salah satunya adalah keluarga Bu Siti. “Dulu banyak yang mengolah gula nipah, sekarang makin sedikit karena hasilnya sulit dipasarkan dan prosesnya rumit,” tutur Bu Siti.
Meski demikian, pohon nipah memiliki nilai penting, bukan hanya dari sisi ekonomi, tapi juga ekologi. Ekosistem mangrove tempat tumbuhnya pohon nipah mampu meredam abrasi dan menjadi rumah bagi beragam biota laut. Selain itu, masyarakat setempat mempercayai gula nipah sebagai pemanis alami yang juga memiliki khasiat kesehatan.
Sayangnya, minimnya dukungan pasar dan regenerasi pengrajin membuat gula nipah rawan hilang. Beberapa komunitas penggiat lokal mulai mendorong promosi kuliner khas ini agar lebih dikenal. “Kalau dipasarkan dengan baik, gula nipah bisa jadi produk unggulan. Rasa khasnya cocok untuk kue dan minuman modern,” kata seorang pegiat kuliner lokal.
Peluang untuk menjadikan gula nipah sebagai ikon pangan lokal masih terbuka lebar. Namun, butuh dukungan bersama agar tradisi ini tak hilang ditelan zaman.
