Jember – Aktivis muda lintas kota berkumpul di Jember dalam kegiatan Pendidik Politik #2 Tahun 2026 yang digelar PAR Alternatif Indonesia. Mengusung tajuk Temu Politik Anak Muda, forum ini menjadi ruang diskusi untuk membedah tantangan gerakan masyarakat sipil, mulai dari integritas aktivis, solidaritas antarkelompok, hingga relasi dengan kekuasaan.
Kegiatan diawali dengan Opening Ceremony di Coffee Cord, Jumat (23/10/2026) malam. Forum tersebut menghadirkan tiga narasumber dari berbagai daerah, yakni Muhammad Fakhrurrozi dari Kawal Keadilan Yogyakarta, Jorgiana Augustine dari Bareng Warga Jakarta, serta Saiful Amin dari Sekitar Institut Kediri.
Direktur PAR Alternatif Indonesia, Andi Saputra, selaku tuan rumah, menyoroti tiga persoalan mendasar yang dinilai masih menjadi tantangan gerakan anak muda, yakni kapasitas sumber daya manusia, integritas, dan daya tahan perjuangan.
Menurut Andi, gerakan anak muda tidak cukup hanya bermodal semangat. Aktivis juga perlu membangun kapasitas, menjaga kejujuran, serta memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kelompok rentan.
Ia menegaskan, posisi aktivis di dalam maupun di luar kekuasaan bukanlah persoalan utama. Hal terpenting adalah konsistensi dalam memegang nilai-nilai perjuangan.
“Enggak masalah di luar atau di dalam, tetapi nilainya harus sama. Kapasitas dan integritas untuk melawan penindasan dan kemungkaran. Apa pun posisi kalian, melawan itu penting,” ujarnya.
Andi juga menyoroti hubungan antarkelompok masyarakat sipil yang masih kerap diwarnai kecurigaan. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi menghambat terbentuknya gerakan kolektif yang kuat.
Persoalan lainnya adalah menjaga daya tahan perjuangan dalam jangka panjang. Ia menilai, konsistensi menjadi tantangan tersendiri ketika sebagian aktivis mulai memasuki lingkaran kekuasaan.
Dalam forum tersebut, Jorgiana Augustine dari Bareng Warga Jakarta mengangkat persoalan demonstrasi dan dugaan transaksi yang dapat memengaruhi arah gerakan. Ia mengingatkan bahwa keterlibatan kepentingan politik berpotensi menempatkan anak muda pada posisi rentan.
“Semua dari kita ini ada harganya,” ujar Jorgiana.
Ia juga menyinggung pengalaman penangkapan dan penahanan aktivis setelah rangkaian demonstrasi pada Agustus 2025. Menurutnya, pengalaman tersebut perlu menjadi bahan refleksi bagi anak muda agar lebih kritis dalam membaca dinamika gerakan.
Jorgiana kemudian menyebut angka yang diklaimnya berkaitan dengan nilai transaksi dalam aksi demonstrasi di sejumlah daerah.
“Kalau di Jawa Timur tadi disebut harganya 38 juta, di Jakarta demo-demo kecil itu dihargai 200 juta,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari kritik yang disampaikan dalam forum. Namun, angka dan dugaan transaksi yang disebutkan merupakan klaim narasumber yang memerlukan verifikasi lebih lanjut.
Sementara itu, Muhammad Fakhrurrozi dari Kawal Keadilan Yogyakarta membahas hubungan aktivis dengan kekuasaan, termasuk munculnya kritik terhadap aktivis yang memilih bergabung dengan partai politik.
Menurut Fakhrurrozi, persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari terbatasnya ruang aspirasi bagi anak muda. Karena itu, perdebatan mengenai pilihan berada di dalam atau di luar kekuasaan perlu dilihat secara lebih mendalam.
Baginya, hal yang mendasar bukan sekadar posisi politik seorang aktivis, melainkan bagaimana mereka tetap menjaga keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
Diskusi ini turut membuka ruang refleksi mengenai cara aktivis mempertahankan nilai perjuangan ketika berhadapan dengan dinamika politik dan kekuasaan.
Narasumber lainnya, Saiful Amin dari Sekitar Institut Kediri, membagikan pengalaman pribadi ketika menghadapi tekanan setelah peristiwa Agustus 2025.
Ia mengaku pernah dijemput dari tempat kontrakannya sekitar pukul 02.00 dini hari. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan baginya untuk membangun pertemanan dan solidaritas dengan sesama aktivis yang memiliki pengalaman serupa.
Saiful menilai, perjuangan menghadapi kekuasaan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Diperlukan kesadaran bersama dan jaringan solidaritas yang mampu memperkuat gerakan masyarakat sipil.
“Kesadaran saya datang ke sini karena ingin berkawan dengan kawan-kawan yang sepenanggungan dan sadar bahwa kekuasaan tidak bisa dihadapi oleh segelintir orang,” ungkap Saiful.
Kegiatan pembukaan Pendidik Politik #2 PAR Alternatif Indonesia tersebut turut dihadiri sejumlah organisasi mahasiswa dan kelompok gerakan lainnya.
Pertemuan lintas kota ini menjadi kesempatan bagi para peserta untuk bertukar pengalaman, membangun jejaring, serta mendiskusikan tantangan yang dihadapi aktivis muda dalam menjaga integritas, memperkuat solidaritas, dan mempertahankan konsistensi perjuangan.
