Malang – Sebuah sindiran keras bagi generasi muda menggema dalam kegiatan Bedah Buku Panyirep Gemuruh Part 2 yang digelar Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Melalui pemikiran KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab, para kader diajak keluar dari zona nyaman, membangkitkan semangat intelektual, dan membuktikan pengabdian melalui tindakan nyata di tengah masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung di Kedai Coffee Abimanyu, Desa Watugede, Kecamatan Singosari, pada Rabu (21/10/2026), mulai pukul 18.00 WIB tersebut diinisiasi Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) dan Pendidikan PAC GP Ansor Singosari bersama Ranting GP Ansor Desa Watugede. Selain memperdalam pemahaman terhadap karya Panyirep Gemuruh, forum ini menjadi sarana konsolidasi organisasi, penguatan literasi, serta refleksi terhadap tanggung jawab generasi muda Nahdlatul Ulama (NU).
Ketua PAC GP Ansor Singosari, Gus Afifudin, menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar forum membahas sejarah perjuangan ulama. Menurutnya, keteladanan Mbah Wahab justru menjadi kritik bagi generasi muda yang belum sepenuhnya memanfaatkan potensi dan waktunya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Alhamdulillah, kegiatan ini secara tidak langsung menjadi sindiran keras bagi kami sebagai generasi muda tentang pentingnya produktivitas dalam berkhidmat di tengah masyarakat. Mbah Wahab Chasbullah telah mencontohkan bahwa pada usia muda, beliau mampu menjadi Panyirep Gemuruh di tengah konflik Masjid Peneleh. Jika ingin mengetahui lebih jelas, kami menyarankan untuk membaca karya beliau secara lengkap, Panyirep Gemuruh,” tutur Gus Afif.
Ia memandang perjalanan intelektual dan perjuangan Mbah Wahab sebagai sumber inspirasi yang tetap relevan dengan tantangan zaman. Kader Ansor diharapkan tidak hanya memahami sejarah organisasi, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, membangun kedewasaan dalam bersikap, serta menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan sosial.
Menurutnya, produktivitas kader tidak semata-mata diukur melalui banyaknya kegiatan organisasi yang diselenggarakan. Lebih jauh, produktivitas perlu diwujudkan melalui kontribusi yang memberikan dampak positif, baik dalam bidang pendidikan, sosial, keagamaan, maupun pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor Desa Watugede, Ahmad Fauzi, menyambut positif penyelenggaraan bedah buku tersebut. Ia menilai kegiatan berbasis literasi mampu menjadi penggerak untuk membangkitkan kembali partisipasi kader sekaligus mempererat hubungan antara Ansor dan kepengurusan NU di tingkat desa.
“Intinya, acara ini sangat berdampak bagi ranting. Salah satunya adalah mengaktifkan kader-kader yang selama ini ‘tertidur’ agar bangun dan bangkit kembali. Selain itu, kegiatan ini juga dapat menambah keilmuan bagi sahabat-sahabat di ranting. Lebih dari itu, acara ini bisa menyatukan kepengurusan NU Ranting Watugede dengan pengurus Ranting Ansor,” ungkap Bung Fauzi, sapaan akrabnya.
Fauzi berharap kegiatan serupa dapat menjadi agenda berkelanjutan. Dengan demikian, kaderisasi tidak hanya berlangsung melalui mekanisme formal organisasi, tetapi juga melalui ruang diskusi yang memungkinkan setiap anggota memperluas pengetahuan, bertukar gagasan, dan memperkuat solidaritas.
Dalam forum tersebut, Dr. Kiai Muhammad Kholison yang hadir sebagai pemantik diskusi mengajak para kader menjadikan Mbah Wahab sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari. Keteladanan itu, menurutnya, harus tercermin secara menyeluruh, mulai dari cara berpikir hingga tindakan.
“Kita harus menjadi wujud dari Mbah Wahab, mulai dari pemikiran, lisan, hingga tingkah laku sebagai arah gerak kita sebagai generasi muda Ansor. Selamat Hari Santri!” tegas Dr. Kiai Muhammad Kholison.
Pesan tersebut sekaligus memperkuat makna peringatan Hari Santri yang jatuh pada Kamis (22/10/2026). Momentum ini menjadi pengingat bahwa generasi muda NU memiliki tanggung jawab melanjutkan tradisi keilmuan para ulama sekaligus menjaga semangat pengabdian terhadap agama, bangsa, dan masyarakat.
Dalam pemaparan materinya, Kholison juga menekankan pentingnya kemampuan memahami persoalan secara komprehensif. Setiap permasalahan, menurut pembahasan yang disampaikan, perlu ditelusuri hingga akar penyebabnya agar penyelesaian yang dirumuskan tidak berhenti pada gejala, melainkan mempertimbangkan keseluruhan konteks sosial yang melatarbelakanginya.
Pembahasan semakin mendalam melalui perspektif Fathul H. Panata Praja selaku penerjemah kitab Panyirep Gemuruh. Ia menyoroti besarnya potensi manuskrip beraksara Pegon sebagai sumber pengetahuan yang dapat dikaji melalui berbagai pendekatan keilmuan.
Naskah-naskah tersebut dinilai membuka peluang kajian lintas disiplin, termasuk fikih sosial, filsafat, dan komunikasi. Namun, proses pengkajian membutuhkan ketelitian dalam memahami bahasa, substansi, serta latar sejarah agar pesan yang terkandung di dalamnya tidak mengalami penyimpangan makna.
Diskusi itu turut melahirkan sejumlah gagasan pengembangan kegiatan literasi di lingkungan Ansor Singosari. Salah satunya adalah memperluas penyelenggaraan bedah buku dan kajian tematik hingga ke masjid dan musala di berbagai wilayah Kecamatan Singosari.
Selain itu, muncul usulan untuk melakukan inventarisasi manuskrip Pegon yang memiliki nilai sejarah dan keilmuan. Peserta juga membahas kemungkinan penerjemahan bahan berbahasa Pegon ke dalam bahasa Arab dengan tetap memperhatikan ketepatan bahasa serta kesesuaian substansi.
Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan intelektualitas kader dapat dikembangkan melalui kegiatan yang lebih luas daripada sekadar diskusi rutin. Pengkajian manuskrip, penerjemahan karya ulama, dan penyebarluasan pengetahuan berpotensi menjadi bagian dari upaya menjaga warisan intelektual pesantren agar tetap dipahami generasi berikutnya.
Apresiasi terhadap penyelenggaraan kegiatan juga disampaikan salah seorang peserta, Haji Sodik. Ia menilai kolaborasi bidang SDM dan Pendidikan bersama pengurus ranting berhasil menghadirkan forum pembelajaran yang memberikan inspirasi bagi para kader.
“Apresiasi yang luar biasa kepada Departemen SDM dan Pendidikan yang telah berhasil menyelenggarakan kegiatan ini dengan sukses, lancar, dan penuh inspirasi. Semoga sosok Mbah Wahab Chasbullah tetap menjadi panutan dalam hal pergerakan, intelektual, dan kedewasaan spiritual,” ujar Sahabat Haji Sodik.
Menurut pandangan yang berkembang dalam forum tersebut, penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu kebutuhan penting bagi organisasi kepemudaan. Kemampuan intelektual perlu berjalan beriringan dengan kematangan spiritual dan kepekaan sosial agar kader mampu menjalankan perannya secara bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, PAC GP Ansor Singosari bersama Ranting GP Ansor Watugede berupaya memperkuat tradisi membaca, berdiskusi, dan mengkaji pemikiran ulama sebagai bagian dari proses kaderisasi yang berkelanjutan.
Penanggung jawab kegiatan atau Person in Charge (PIC), Ilham Muhtadi, berharap semangat perjuangan Mbah Wahab dapat terus menginspirasi generasi muda Ansor untuk mengembangkan kemampuan diri dan meningkatkan pengabdian kepada masyarakat.
“Semoga semangat Mbah Wahab Chasbullah menjadi pengingat bahwa generasi muda harus terus belajar, berpikir kritis, berani bergerak, dan produktif dalam berkhidmat,” pungkas Sahabat Ilham Muhtadi selaku PIC acara tersebut.
Bedah Buku Panyirep Gemuruh Part 2 akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda literasi. Kegiatan ini menghadirkan pesan bahwa warisan pemikiran ulama tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu diterjemahkan menjadi gerakan nyata. Melalui penguatan intelektual, solidaritas organisasi, dan keteladanan spiritual, Ansor Singosari berupaya membentuk generasi muda yang tidak hanya aktif berhimpun, tetapi juga produktif dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
