Jombang – Terik matahari seolah menjadi lawan yang tak pernah lelah menguji ketangguhan petani semangka di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang. Di tengah hamparan tanaman yang mulai memasuki masa panen, Hartoyo bersama rekannya tetap berjibaku merawat buah-buah semangka yang tumbuh di antara sulur hijau. Namun, kerja keras selama hampir dua bulan itu belum tentu berakhir dengan keuntungan yang menggembirakan.
Musim panen semangka pada Oktober 2026 menjadi tantangan tersendiri bagi Hartoyo. Cuaca panas yang menyengat membuat pertumbuhan tanaman tidak maksimal. Sebagian buah berukuran lebih kecil dibandingkan biasanya, sementara jumlah semangka yang dihasilkan juga dirasakan berkurang. Kondisi tersebut semakin berat karena harga jual di tingkat petani bergantung pada ketersediaan pasokan di pasaran.
“Sekarang sudah susah diperkirakan. Buahnya tidak seperti biasanya. Susah besar, kecil-kecil, dan jumlahnya juga tidak banyak,” tutur Hartoyo saat ditemui di lahan semangka miliknya di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Selasa (20/10/2026).
Bagi Hartoyo, menanam semangka bukan sekadar menunggu buah matang kemudian memetiknya. Ada rangkaian pekerjaan yang harus dilakukan secara telaten, mulai dari pengolahan lahan, pemupukan, pengairan, hingga pengendalian hama. Seluruh proses tersebut membutuhkan tenaga, waktu, dan biaya yang tidak sedikit.
Menurutnya, tanaman semangka umumnya membutuhkan waktu sekitar 55 hingga 65 hari sejak penanaman sampai siap dipanen. Dalam rentang waktu tersebut, petani harus memastikan pertumbuhan tanaman berlangsung optimal agar buah memiliki ukuran dan kualitas yang layak dipasarkan.
Ketepatan menentukan waktu panen juga menjadi perhatian penting. Apabila buah dipetik terlalu cepat, tingkat kematangannya berpotensi belum maksimal. Sebaliknya, keterlambatan panen dapat meningkatkan risiko kerusakan, termasuk akibat serangan ulat yang menyebabkan buah berlubang.
Untuk menjaga pertumbuhan tanaman, Hartoyo menggunakan pupuk NPK dan ZA serta memberikan suplemen tambahan sesuai kebutuhan. Penyemprotan juga dilakukan guna mengendalikan serangan ulat maupun serangga lain yang berpotensi merusak tanaman.
Meski berbagai upaya perawatan telah dilakukan, kondisi cuaca tetap menjadi faktor yang sulit dikendalikan. Suhu panas yang menyengat membuat daun tanaman semangka berisiko mengering dan mengerut. Keadaan tersebut menuntut petani meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan air tanaman.
Ketika hujan jarang turun, Hartoyo memanfaatkan mesin diesel untuk mengambil air tanah. Air tersebut kemudian digunakan mengairi lahan agar tanaman tetap memperoleh pasokan yang cukup selama masa pertumbuhan.
Penggunaan mesin diesel menjadi bagian dari upaya mempertahankan tanaman hingga panen. Namun, kebutuhan pengairan tersebut juga menambah komponen biaya produksi yang harus diperhitungkan petani.
Persoalan tidak berhenti ketika buah semangka berhasil dipanen. Hartoyo masih harus menghadapi ketidakpastian harga jual yang bergerak mengikuti kondisi pasokan dan permintaan pasar.
“Kalau barangnya melimpah, harga turun. Biasanya pasar ditentukan ketersediaan barang,” ujarnya.
Hartoyo menjelaskan, melimpahnya pasokan semangka di pasaran biasanya membuat harga jual melemah. Sebaliknya, ketika ketersediaan buah terbatas, harga berpeluang meningkat. Kondisi tersebut membuat petani tidak selalu dapat memastikan nilai penjualan yang akan diperoleh saat musim panen tiba.
Dalam memasarkan hasil pertaniannya, Hartoyo lebih sering menggunakan sistem borongan kepada pembeli atau pemborong. Penjualan dilakukan berdasarkan luasan lahan yang dipanen, bukan semata-mata menggunakan perhitungan berat buah per kilogram.
Sistem borongan menjadi salah satu pilihan pemasaran hasil panen. Sementara itu, penjualan berdasarkan timbangan biasanya mempertimbangkan ukuran dan kualitas buah yang memenuhi kriteria pembeli.
“Artinya, buah yang tumbuh baik belum tentu mendatangkan keuntungan besar. Semuanya masih bergantung pada kondisi pasar ketika hasil panen dijual,” tutur pria paruh baya ini.
Hartoyo mengungkapkan, dalam kondisi terbaik, nilai penjualan semangka dari lahan seluas sekitar 100 meter persegi dapat mencapai Rp4 juta. Namun, angka tersebut tidak selalu dapat diperoleh pada setiap musim tanam.
Pada panen kali ini, hasil penjualan untuk luasan lahan tersebut bahkan belum mampu menyentuh angka yang diharapkan. Produktivitas tanaman yang kurang maksimal menjadi salah satu persoalan yang dihadapi.
Nilai penjualan tersebut juga belum mencerminkan keuntungan bersih petani. Masih terdapat sejumlah pengeluaran yang harus dikurangi, antara lain biaya pembelian pupuk, obat-obatan tanaman, pengairan, serta kebutuhan operasional selama masa budidaya.
Ketidakpastian tersebut menjadi gambaran persoalan yang dihadapi petani semangka. Di satu sisi, biaya produksi harus dikeluarkan sejak awal penanaman. Di sisi lain, hasil panen dan harga jual baru dapat diketahui setelah tanaman memasuki masa produksi.
Bagi Hartoyo, kondisi tersebut merupakan bagian dari risiko bertani yang harus dihadapi. Keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh ketekunan merawat tanaman, tetapi juga dipengaruhi faktor alam dan pergerakan harga pasar.
Selepas musim semangka berakhir, petani di Desa Sudimoro masih harus menentukan jenis tanaman yang akan dibudidayakan berikutnya. Keputusan tersebut berkaitan erat dengan perubahan musim dan ketersediaan air di lahan pertanian.
Hartoyo menyebut, penanaman padi biasanya menunggu datangnya hujan dengan intensitas yang cukup. Ketika curah hujan meningkat dan air sungai mulai memasuki area persawahan, kesempatan untuk kembali menggarap tanaman padi menjadi lebih terbuka.
Selain semangka dan padi, sebagian lahan pertanian di kawasan tersebut juga dimanfaatkan untuk menanam jagung. Pergantian komoditas menjadi salah satu cara petani menyesuaikan kegiatan budidaya dengan kondisi musim.
Kehidupan masyarakat Desa Sudimoro sendiri tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian. Sebagian warga juga menggantungkan penghasilan dari kegiatan mencari ikan di sungai, berdagang, maupun pekerjaan lainnya.
Namun, bagi keluarga yang menjadikan pertanian sebagai sumber penghidupan utama, perubahan musim dan hasil panen tetap memiliki pengaruh besar terhadap keberlangsungan ekonomi rumah tangga.
“Jadi, kapan menanam, kapan memanen, dan tanaman apa yang cocok dibudidayakan berikutnya bukan sekadar keputusan teknis, melainkan juga berkaitan dengan keberlangsungan penghasilan,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Hartoyo tetap menjalani masa panen semangka dengan penuh ketekunan. Buah-buah yang tumbuh di lahannya menjadi hasil kerja keras selama hampir dua bulan, meskipun ukuran, jumlah, dan nilai jualnya belum sepenuhnya memenuhi harapan.
Perjuangan petani semangka di Sudimoro memperlihatkan bahwa musim panen tidak selalu identik dengan keuntungan. Di balik buah yang siap dipasarkan, terdapat biaya produksi, ancaman cuaca ekstrem, kebutuhan pengairan, serta ketidakpastian harga yang harus dihadapi.
Bagi Hartoyo dan petani lainnya, harapan tetap ditanam bersama setiap benih yang masuk ke tanah. Meski panas matahari terus menyengat dan harga pasar sulit ditebak, mereka tetap bertahan, merawat tanaman hingga panen, sembari berharap jerih payah yang dicurahkan mampu memberikan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
