BANYUWANGI – Tim dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB) melalui Program Dosen Berkarya mengembangkan Smart Fisheries Watch, sistem pemantauan berbasis kamera digital bertenaga surya untuk mendukung digitalisasi dan praktik perikanan yang lebih bertanggung jawab pada perikanan lemuru di Muncar, Banyuwangi.
Inovasi tersebut dikembangkan bersama KOLEKTIF sebagai mitra pendamping keberlanjutan perikanan dan melibatkan kelompok nelayan Slerek penangkap ikan lemuru di kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai Muncar.
Pemasangan Smart Fisheries Watch pada kapal Slerek ditujukan untuk memantau aktivitas penangkapan, hasil tangkapan, serta potensi interaksi kegiatan perikanan dengan spesies terancam punah (Endangered, Threatened, and Protected species/ETP).
Melalui sistem tersebut, aktivitas penangkapan ikan di laut dapat terdokumentasi secara lebih objektif sehingga data dan praktik perikanan menjadi lebih transparan serta mudah diverifikasi.
Upaya ini sekaligus memperkuat tata kelola sumber daya perikanan dan mendorong praktik penangkapan yang mendukung keberlanjutan ekosistem laut, sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 14: Ekosistem Lautan.
Ketua pelaksana kegiatan, Wirastika Adhihapsari, S.Pi., M.P., bersama tim dosen FPIK UB yang terdiri atas Ledhyane Ika Harlyan, S.Pi., M.Sc., Ph.D. dan Kristina Marsela, S.Pi., M.I.L., menjelaskan bahwa teknologi tersebut dirancang dengan mempertimbangkan kondisi operasional kapal nelayan skala kecil.
Kamera yang digunakan memiliki fitur tahan air, kualitas rekaman tinggi, kemampuan visual pada malam hari, serta ditopang oleh tenaga surya sehingga tidak membebani sistem kelistrikan kapal.
Pemanfaatan teknologi tepat guna tersebut menunjukkan bagaimana inovasi perguruan tinggi dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat pesisir sekaligus mendukung pemanfaatan energi yang lebih berkelanjutan.
Tidak hanya memasang perangkat, kegiatan juga dilengkapi dengan pelatihan penggunaan dan perawatan kamera, sosialisasi aspek sosial ketenagakerjaan dan hak nelayan di atas kapal, pengenalan penanganan spesies ETP maupun bycatch, serta diskusi bersama nelayan dan mitra.
Pendekatan tersebut menempatkan nelayan bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai bagian penting dalam proses penguatan kapasitas dan tata kelola perikanan.
Peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran nelayan ini turut merepresentasikan SDG 4: Pendidikan Bermutu, khususnya melalui pembelajaran dan peningkatan kapasitas masyarakat yang terlibat langsung dalam aktivitas perikanan.
Smart Fisheries Watch diharapkan dapat menjadi model awal pemantauan visual pada perikanan tangkap skala kecil.
Ketersediaan data hasil tangkapan yang lebih transparan dan bukti visual aktivitas penangkapan dapat mendukung pelaksanaan Fishery Improvement Project (FIP) sekaligus memperkuat proses pengambilan keputusan berbasis data.
Inovasi ini juga membuka peluang untuk direplikasi pada kelompok nelayan lain di Muncar maupun wilayah pesisir lainnya sehingga manfaat teknologi dapat diperluas kepada lebih banyak masyarakat pesisir.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, mitra pendamping, dan kelompok nelayan tersebut mencerminkan semangat SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kerja sama lintas pihak untuk memperkuat pengelolaan perikanan yang berkelanjutan.
Melalui Program Dosen Berkarya, FPIK UB terus mendorong hilirisasi hasil pengetahuan dan teknologi agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pengembangan Smart Fisheries Watch menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan nelayan, memperkuat transparansi aktivitas perikanan, meningkatkan kapasitas masyarakat pesisir, serta mendukung transformasi digital menuju tata kelola sumber daya ikan yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan.
