Budaya healing telah melekat dalam keseharian Gen Z. Dari staycation di vila pegunungan hingga secangkir kopi di tempat estetik, semua dilakukan demi mengusir stres. Tapi ketika liburan usai, kenapa kecemasan tetap datang? Apakah healing benar-benar menyembuhkan atau hanya pelarian sementara?
Istilah healing kini telah menjadi tren sosial. Namun menurut Rosenbaum & Wong (2015), liburan memang bisa memperbaiki suasana hati, tapi tak menyelesaikan akar masalah psikologis. Artinya, healing tanpa refleksi hanya akan memberikan efek sementara.
Healing namun Tetap Hampa
Fenomena ini disebut post-travel anxiety—rasa stres dan kecewa yang muncul setelah liburan selesai. Menurut Gilbert & Abdullah (2004), stres dapat kembali muncul dalam waktu 2–4 hari jika tidak ada perubahan pada penyebab utama, seperti beban kerja, relasi bermasalah, atau krisis eksistensial.
Banyak Gen Z yang kembali merasa hampa setelah healing. Itu karena healing hanya dilakukan secara fisik, bukan batiniah. Padahal menurut Bach & Guse (2017), liburan yang disertai refleksi, detoks digital, dan aktivitas bermakna jauh lebih efektif menyegarkan jiwa.
Pendekatan untuk Menyembuhkan
Beberapa pendekatan healing yang lebih menyembuhkan antara lain:
- Mindfulness dan meditasi harian
- Menulis jurnal reflektif
- Konseling profesional
- Koneksi sosial yang suportif
- Menerima emosi negatif dengan penuh kasih
Dalam studi Neff & Germer (2013), praktik self-compassion terbukti membantu individu pulih dari tekanan emosional dengan cara yang lebih mendalam dan tahan lama.
Healing bukan soal tempat, tapi proses. Gen Z perlu menyadari bahwa liburan bisa menyenangkan, tapi penyembuhan sejati terjadi saat kita berani menyelami dan mengelola rasa.
